Medan, LINI NEWS — “Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga tentang menyalakan cahaya kebersamaan.”
Wali Kota Medan Rico Waas melalui Wakil Wali Kota Medan
H. Zakiyuddin Harahap menyatakan dukungannya terhadap rencana pelaksanaan Pawai Obor dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.
Kegiatan tersebut dinilai sebagai agenda positif yang mampu menumbuhkan semangat kebersamaan, khususnya di kalangan generasi muda.
Dukungan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Medan saat menerima audiensi Organisasi Ummat Islam Sumatera Utara selaku panitia Pawai Obor yang diketuai Taufik Ismail, di Balai Kota Medan, Senin (9/2/2026).
“Tradisi yang dirawat dengan niat baik akan menjadi jembatan nilai antar generasi,” ujar Zakiyuddin dalam pertemuan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Zakiyuddin Harahap tidak hanya menyatakan dukungan, tetapi juga memberikan apresiasi atas inisiatif penyelenggaraan Pawai Obor.
Ia mengenang suasana Ramadhan di masa kecil, ketika pawai obor dan permainan meriam bambu menjadi simbol sukacita kolektif masyarakat dalam menyambut bulan puasa.
“Kenangan masa lalu bukan untuk diratapi, tetapi untuk dihidupkan kembali dalam bentuk yang lebih bermakna,” tuturnya.
“Dulu, puasa sangat ditunggu-tunggu dan digaungkan dengan penuh kebersamaan. Kegiatan seperti ini bisa menjadi sarana untuk kembali menyatukan semangat itu,” tutur Zakiyuddin
Harahap yang didampingi Plt Kabag Kesra Setda Kota Medan, Agus Suriyono.
“Kebersamaan adalah ruh dari setiap perayaan keagamaan,” tambahnya.
Menurut Zakiyuddin Harahap, Pawai Obor merupakan kegiatan positif yang perlu terus didorong, terutama karena semakin jarang generasi muda terlibat aktif dalam menyemarakkan datangnya bulan suci Ramadhan.
“Anak muda yang diberi ruang positif akan tumbuh dengan nilai yang kuat,” ujarnya.
Ia juga berharap panitia dapat menyisipkan pesan-pesan moral bagi generasi muda dalam pelaksanaan pawai tersebut.
Pesan seperti ajakan menjauhi narkoba dan judi online dinilai penting sebagai bagian dari upaya pencegahan kejahatan yang kerap menyeret kaum muda.
“Syiar agama harus berjalan seiring dengan pesan penyelamatan generasi,” tegas Zakiyuddin.
Pesan moral tersebut, lanjutnya, dapat disampaikan melalui spanduk atau media visual selama kegiatan berlangsung.
Lebih jauh, Zakiyuddin Harahap berharap Pawai Obor tidak hanya menjadi tradisi seremonial keagamaan, tetapi juga momentum untuk membangun kepedulian sosial dan memperkuat nilai-nilai kebajikan di tengah masyarakat Kota Medan.
“Cahaya obor adalah simbol harapan, bukan sekadar nyala api,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pawai Obor, Taufik Ismail, menjelaskan bahwa pawai direncanakan dimulai dari Masjid Raya Al Mashun, kemudian berjalan kaki melalui:
Jalan Katamso,
Jalan Pemuda,
Jalan Palang Merah,
Jalan MT Haryono, hingga
Jalan Cirebon.
Panitia juga menyiapkan titik istirahat (pit stop) di depan Hotel Soechi, sebelum kegiatan ditutup dengan tausiyah.
“Langkah kaki yang disatukan akan melahirkan kekuatan sosial,” ungkapnya.
Taufik Ismail menambahkan, pada pelaksanaan tahun lalu, jumlah peserta Pawai Obor mencapai sekitar 7.000 orang.
Selain sebagai syiar Ramadhan, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penggalangan dana untuk membantu korban bencana alam di wilayah Sumatera.
“Ibadah yang hidup adalah ibadah yang menyentuh sesama,” pungkasnya.
(Salomo Simorangkir)




