Medan, LINI NEWS — Di tengah dinamika tugas kepolisian yang sarat tekanan dan tantangan, Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, S.I.K., M.H. menegaskan pentingnya keseimbangan antara iman, integritas, dan pengabdian. Melalui kebijakan yang penuh makna, ia menginstruksikan agar setiap apel Kamis pagi dilaksanakan di depan rumah ibadah — gereja bagi umat Kristiani dan masjid bagi umat Muslim — sebelum seluruh personel mengikuti pembinaan rohani dan mental (Binrohtal) sesuai keyakinan masing-masing.
Instruksi ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan refleksi visi spiritual yang kuat: “Ibadah sebelum bertugas, agar tugas menjadi ibadah.”
Suasana Hikmat di Gereja Oikumene Polda Sumut
Kamis, 13 November 2025, Gereja Oikumene Polda Sumut di Jalan Sisingamangaraja Km 10,5 Medan Amplas dipenuhi suasana teduh dan penuh haru. Puluhan personel yang beragama Kristen berkumpul dalam kebersamaan, mengikuti ibadah rutin yang menjadi denyut rohani korps Bhayangkara Sumatera Utara.
Kegiatan ini diisi oleh satuan kerja Laboratorium Forensik (Labfor) dan Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) yang mendapat giliran pelayanan minggu ini.
Ibadah dipimpin oleh Pdt. P. Sirait, dengan khotbah dari Mazmur 128:1–6, yang menekankan pesan mendalam:
“Berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Ia akan diberkati dalam pekerjaannya dan dalam seluruh kehidupannya.”
Kata-kata itu menggema lembut di ruangan, menembus hati para personel yang menundukkan kepala, merenungi arti pelayanan yang sejati.

Doa dan Air Mata di Tengah Pengabdian
Beberapa anggota tampak menitikkan air mata saat doa bersama dinaikkan. Dalam kesunyian itu, tersirat satu kerinduan yang sama — agar dalam setiap langkah pengabdian, ada tangan Tuhan yang menuntun dan melindungi.
Pdt. Sirait menutup ibadah dengan doa khusus bagi seluruh personel Polda Sumut:
“Tuhan, berkatilah langkah kaki mereka, kuatkan hati mereka, dan jadikan setiap tugas sebagai ladang pelayanan bagi kemanusiaan.”
Kabid Humas: Ibadah Adalah Sumber Kekuatan Moral
Dalam kesempatan yang sama, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Dr. Ferry Walintukan, S.I.K., S.H., M.H. menyampaikan pesan reflektif kepada seluruh peserta ibadah:
“Mari kita rawat roh pelayanan melalui ibadah. Bagi satuan kerja yang mendapat giliran, persiapkanlah dengan hati, bukan hanya administrasi. Lagu-lagu pujian, doa, dan kehadiran kita — semuanya bagian dari ibadah yang hidup.”
Ia menegaskan bahwa kegiatan Binrohtal bukan hanya agenda seremonial, tetapi pondasi moral bagi setiap insan Bhayangkara.
Komitmen Integritas Polda Sumut
Dari kegiatan rohani yang sederhana ini, tersirat tujuh mutiara nilai yang menjadi semangat baru bagi Polda Sumut:
Ibadah Sebelum Bertugas — agar setiap langkah diawali dengan kesadaran spiritual.
Tugas Adalah Ibadah — melayani masyarakat dengan hati yang tulus.
Disiplin dan Integritas — menjadikan iman sebagai penjaga moral di tengah godaan.
Persaudaraan Seiman dan Sejawat — membangun sinergi rohani lintas satuan kerja.
Doa Sebagai Benteng Diri — menghadapi tekanan tugas dengan kekuatan rohani.
Rohani yang Kuat, Kinerja yang Hebat — iman yang hidup menumbuhkan profesionalitas.
Pengabdian yang Diberkati — karena tugas yang dijalankan dengan hati akan berbuah kebaikan.
Pesan Kapolda Sumut: Disiplin dalam Ibadah, Kuat dalam Pengabdian
Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan menegaskan bahwa disiplin beribadah adalah bagian dari disiplin keprajuritan.
“Personel yang rajin beribadah akan memiliki hati yang bersih dan pikiran yang jernih. Dari sanalah lahir polisi yang berintegritas dan berjiwa melayani,” ujarnya dalam arahannya.
Kebijakan “apel rohani” setiap Kamis menjadi simbol bahwa kepemimpinan di Polda Sumut bukan hanya soal komando, tetapi juga keteladanan moral dan spiritual.
Makna di Balik Binrohtal
Kegiatan Binrohtal Polda Sumut kini menjadi ruang penyegaran jiwa di tengah kerasnya rutinitas kepolisian. Dari gereja hingga masjid, dari doa hingga tindakan, semuanya berpadu dalam semangat “Polri Presisi yang beriman, beretika, dan berintegritas.”
Suasana yang lahir bukan sekadar ritual, melainkan revolusi moral sunyi — di mana pengabdian dijalankan dengan ketulusan, bukan sekadar kewajiban.
(Nurlince Hutabarat)




