Tapanuli Tengah, LINI NEWS – Aula Parama Satwika, Senin siang itu, seolah dipenuhi energi kebangsaan yang tak biasa. Polres Tapanuli Tengah menggelar Safari Kebangsaan “Polri untuk Masyarakat – Doa Polri untuk Negeri”, sebuah gerakan yang bukan sekadar acara, tetapi getaran kuat untuk menyatukan hati, meneguhkan persatuan, dan mendekatkan Polri dengan rakyat hingga ke akar terdalam.
Acara yang dimulai pukul 14.00 WIB menghadirkan tokoh-tokoh besar lintas agama: ulama, rohaniwan, akademisi, dan pemuka masyarakat. Mereka duduk satu meja, satu panggung, satu tujuan: merawat Indonesia dari Tapteng.
Pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Marwan Sulaiman membuka tirai acara dengan suasana yang penuh kekhidmatan. Waka Polres Tapteng Kompol M. Iskad melanjutkan dengan pesan kuat bahwa Safari Kebangsaan hadir untuk menjadi obat di tengah perubahan zaman yang begitu cepat dan sering kali memecah belah.
“Kami tidak datang untuk berjarak, tetapi untuk merangkul,” tegasnya dalam sambutan yang disambut tepuk tangan hangat.
Polres Tapteng kemudian memberikan tali asih kepada anak-anak yatim, memperlihatkan wajah Polri yang lembut, hangat, dan penuh empati—wajah yang sering kali tidak terlihat dalam hiruk pikuk pemberitaan nasional.
Ceramah kebangsaan oleh KH. Akhmad Khambali menggugah dan menggelitik kesadaran kolektif. Sementara itu, Romo KH. Ali Hasyim dalam ceramah intinya mengingatkan bahwa Polri bukan hanya penjaga keamanan, tetapi penjaga moral kebangsaan.
Ketika KH. Muhtarom memimpin doa bersama, suasana berubah hening—hening yang penuh kekuatan. Doa itu bukan sekadar permohonan, tetapi seruan bersama agar Indonesia tetap kokoh di tengah badai zaman.

Kapolres Tapanuli Tengah AKBP Wahyu Endrajaya menutup acara dengan pernyataan yang begitu tegas dan menyentuh:
“Polri bekerja dengan hati. Kami ingin masyarakat melihat kami sebagai perekat persatuan, bukan sekadar aparatur penegak hukum.”
Safari Kebangsaan Polres Tapteng bukan hanya sukses—melainkan meninggalkan jejak mendalam, bahwa persatuan adalah energi yang tak akan pernah padam ketika Polri dan masyarakat berjalan beriringan.
“Persatuan bukan mimpi—ia hidup ketika hati-hati bertemu.”
“Doa yang tulus lebih kuat dari teriakan perpecahan.”
“Polri dan rakyat: dua sayap yang harus terbang bersama.”
“Bangsa ini kokoh karena keberagaman yang saling menguatkan.”
“Ketulusan adalah bahasa keamanan yang paling universal.”
“Saat doa naik, kekuatan bangsa turun mengalir.”
“Harmoni lahir dari keberanian untuk merangkul perbedaan.”
“Ukhuwah adalah mata air persatuan.”
“Tapteng mengirim pesan: Indonesia harus dirawat, bukan hanya dibanggakan.”
“Keamanan sejati adalah ketika rakyat merasa dipeluk, bukan diawasi.”
(Nurlince Hutabarat)




