TEGAS! Rico Waas Komandoi Apel Gabungan: Ramadan 1447 H di Medan Harus Aman, ASN Dilarang Kendur Layani Rakyat

0
118

Medan, LINI NEWS – Hujan rintik yang membasahi Lapangan Merdeka tidak meredupkan semangat barisan aparatur Pemerintah Kota Medan.

Di tengah langit mendung, Rabu (18/2/2026) petang, Rico Tri Putra Bayu Waas memimpin apel gabungan pemantauan ketenteraman masyarakat dalam menyambut Ramadan 1447 Hijriah.

Apel yang digelar di jantung Medan itu menjadi penegasan bahwa keamanan, ketertiban, dan pelayanan publik tidak boleh goyah selama bulan suci.

Ketenteraman Ramadan Adalah Harga Mati

Di hadapan unsur TNI-Polri, aparatur sipil negara, serta jajaran Forkopimda, Rico Waas menegaskan bahwa ketenangan masyarakat dalam menjalankan ibadah merupakan prioritas utama.

Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga agar seluruh warga dapat beribadah dengan khusyuk dan hati yang damai.

“Ramadan bukan sekadar ibadah personal, tetapi momentum kolektif menjaga ketenteraman kota.”

Ibadah yang khusyuk hanya lahir dari ruang sosial yang aman.

Ketenteraman adalah tanggung jawab bersama, bukan individu semata.

“Keamanan adalah fondasi kekhusyukan; tanpa rasa aman, doa pun kehilangan ketenangan.”
Filosofi: Spiritualitas bertumbuh di atas rasa aman. Negara hadir untuk memastikan ruang ibadah tidak terganggu.

II. Instruksi Tegas:

Subuh Hingga Tarawih Harus Dalam Pengawasan

Wali Kota memerintahkan Camat, Lurah, dan Kepala Lingkungan untuk melakukan pemantauan wilayah sejak waktu subuh, termasuk mengantisipasi fenomena

“Asmara subuh” yang berpotensi mengganggu ketertiban.

“Disiplin wilayah dimulai dari subuh; siapa yang menjaga pagi, ia menjaga masa depan kota.”

Awal hari adalah simbol awal peradaban.

Ketertiban pagi mencerminkan karakter masyarakatnya.

Pengawasan juga diperluas hingga malam hari saat pelaksanaan salat tarawih, termasuk pemantauan rumah makan, tempat rekreasi, dan pedagang musiman menjelang berbuka puasa.

“Mencari rezeki adalah hak, tetapi ketertiban adalah kewajiban.”

Kebebasan ekonomi harus berjalan berdampingan dengan tanggung jawab sosial.

III. Pelayanan Publik Tidak Boleh Kendur

Dalam arahannya, Rico Waas mengingatkan seluruh ASN agar tidak menjadikan puasa sebagai alasan menurunkan kualitas pelayanan.

Ia bahkan mengungkap pengalaman sidak tahun sebelumnya yang mendapati kantor kecamatan kosong pada Pukul 09.00 pagi.

“Puasa melatih kesabaran, bukan mengurangi pelayanan.”
Filosofi: Ibadah justru harus memperkuat etos kerja dan empati terhadap masyarakat.

“Ruang pelayanan yang kosong adalah cermin tanggung jawab yang hilang.”

Kehadiran aparatur bukan sekadar fisik, melainkan simbol komitmen kepada rakyat.

Rico menegaskan dirinya akan terus memantau kedisiplinan ASN selama Ramadan.

IV. Stabilitas Harga dan Pasar Murah Dijaga

Selain keamanan dan pelayanan, Wali Kota juga memastikan stabilitas pangan tetap terkendali. Ia meminta pasar murah di setiap kelurahan dijaga stoknya sebagai bentuk komitmen kepada masyarakat.

Bersama Kapolrestabes dan Dandim, pemantauan harga akan dilakukan secara berkala hingga menjelang Idulfitri.

“Janji pemerintah kepada rakyat bukan sekadar kata, tetapi harus terjaga hingga ke meja makan mereka.”

Kesejahteraan rakyat diukur dari keterjangkauan kebutuhan pokok, bukan sekadar laporan angka.

V. Sinergi Forkopimda Perkuat Pengamanan Kota
Apel gabungan ini turut dihadiri unsur Forkopimda, antara lain:

Kapolrestabes Medan Kombes Pol

Jean Calvijn Simanjuntak

Perwakilan Kodam I

Dandim 0201/Medan

Danlanud Soewondo

Kapolres Pelabuhan Belawan

Kehadiran lintas institusi ini menjadi simbol kuat bahwa pengamanan Ramadan bukan tugas sektoral, melainkan kerja kolektif menjaga wajah kota.

Ramadan sebagai Ujian Kepemimpinan dan Pelayanan ,
Menutup apel dalam suasana khidmat, Rico Waas mengajak seluruh jajaran memulai Ramadan dengan semangat melayani dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.

Di bawah rintik hujan Lapangan Merdeka, pesan itu menggema jelas:

Ramadan bukan alasan untuk melambat — melainkan momentum untuk memperkuat disiplin, mempertegas pelayanan, dan memastikan Medan tetap aman, tertib, dan bermartabat.

Sebab kota yang besar bukan hanya dibangun dengan beton dan jalan raya, tetapi dengan ketenangan hati warganya. (Salomo Simorangkir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini