Medan, LINI NEWS – Rutan Kelas I Medan menggelar peringatan Hari Ulambana di Vihara Buddha Dharma, bekerja sama dengan Pubbharama Buddhist Center, Sabtu (6/9/2025). Kegiatan ini diikuti dengan penuh khidmat oleh warga binaan beragama Buddha sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana pembinaan kerohanian di dalam rutan.
Rangkaian acara dimulai dengan puja bakti dan doa bersama, dipimpin oleh Bhikkhu dan pandita dari Pubbharama Buddhist Center. Suasana yang tercipta begitu khusyuk, mencerminkan semangat kebersamaan, penghormatan, dan doa tulus untuk kebahagiaan semua makhluk.
Puncak kegiatan ditandai dengan pelepasan 1.200 ekor burung pipit di halaman depan Vihara Rutan. Prosesi ini menjadi simbol pembebasan makhluk dari penderitaan, sekaligus manifestasi cinta kasih (Metta) yang diajarkan dalam ajaran Buddha.
Kepala Rutan Kelas I Medan, Andi Surya, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas terlaksananya kegiatan ini. Menurutnya, Hari Ulambana bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan ruang pembelajaran batin yang meneguhkan keyakinan, memperkuat moral, serta menumbuhkan kepekaan spiritual warga binaan.
“Pembinaan bukan hanya membentuk disiplin, tetapi juga menanamkan nilai. Bila hati sudah tersentuh, maka perilaku akan ikut berubah,” ujar Andi Surya.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa pembinaan kerohanian di dalam Rutan merupakan bagian penting dalam misi kemanusiaan lembaga pemasyarakatan.
“Rutan bukan sekadar tempat menjalani pidana, tetapi ruang untuk menemukan kembali jati diri yang lebih baik,” tegasnya.
Dalam suasana penuh kehangatan tersebut, Kepala Rutan juga menitipkan pesan agar warga binaan senantiasa menjaga semangat kebersamaan dan mempraktikkan nilai kasih dalam kehidupan sehari-hari, baik selama berada di Rutan maupun setelah bebas kelak.
“Cinta kasih yang ditanam hari ini akan menjadi cahaya bagi langkah esok. Hanya dengan kebaikanlah kita bisa membayar luka masa lalu,” pungkas Andi Surya dengan penuh harap.
Dengan demikian, peringatan Hari Ulambana di Rutan Kelas I Medan tidak hanya menjadi momentum ritual keagamaan, tetapi juga wahana pembinaan yang sarat makna, mempertegas komitmen pemasyarakatan dalam membangun pribadi warga binaan yang berakhlak, berempati, dan siap kembali ke tengah masyarakat dengan jiwa yang lebih teduh. (Nurlince Hutabarat)




