Penuh Rasa Kekeluargaan, Wali Kota Medan Rico Waas Buka Pesparani Khatolik Dorong Jadi Agenda Seni dan Budaya Rutin Kota Medan

0
34

Medan, LINI NEWS – Dengan memukul gong sebanyak tiga kali, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas secara resmi membuka kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik se-Kota Medan sekaligus pelantikan Pengurus Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) Kota Medan periode 2025–2030.

Kegiatan berlangsung di Gedung Catholic Center, Jalan Mataram, Medan, Sabtu (5/9/2026), dengan mengusung tema “Berjalan Bersama dalam Harmoni, Mewartakan Kasih dalam Satu Irama.”

Dalam kesempatan tersebut, Rico Waas mendorong agar Pesparani tidak hanya dipandang sebagai ajang perlombaan menjelang kompetisi tingkat provinsi maupun nasional. Menurutnya, Pesparani memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi agenda seni dan budaya yang rutin di Kota Medan.

Rico Waas berharap kegiatan paduan suara dan seni gerejani dapat semakin dikenal, dinikmati, serta menjadi bagian dari kekayaan budaya Kota Medan.

“Untuk Pesparani sendiri, terutama LP3KD, kami berharap pergerakan Pesparani, terutama karena ada unsur kesenian di dalamnya, terutama paduan suara, kami ingin bergerak lebih progresif lagi untuk Kota Medan,” ujar Rico Waas.

Pesparani Jangan Hanya Muncul Saat Perlombaan

Rico Waas menilai aktivitas Pesparani perlu diperbanyak. Ia berharap LP3KD mampu membuat program pembinaan yang berkelanjutan sehingga talenta paduan suara umat Katolik memiliki ruang untuk berkembang.

Menurutnya, kegiatan Pesparani tidak seharusnya hanya berlangsung satu kali dalam setahun atau ketika menghadapi perlombaan tingkat nasional.

“Harus ada kegiatan-kegiatan yang rutin dilakukan. Untuk itu Pemerintah Kota Medan berkeinginan sekali agar nantinya kerja sama dengan LP3KD bisa dilaksanakan agar ada kegiatan rutin yang terus-menerus untuk Pesparani,” ungkapnya.

Penting Ada Ruang Pertunjukan yang Representatif

Rico bahkan membayangkan Kota Medan memiliki ruang pertunjukan yang representatif untuk berbagai kegiatan seni, mulai dari Pesparani, Pesparawi, paduan suara hingga pertunjukan orkestra.

Menurutnya, ruang tersebut idealnya memiliki kualitas akustik yang baik sehingga mampu menjadi tempat pertunjukan sekaligus ruang apresiasi seni bagi masyarakat.

Dengan demikian, Pesparani tidak hanya dinikmati kalangan internal umat Katolik, tetapi juga dapat menjadi salah satu daya tarik seni dan budaya Kota Medan.

Rico: Medan Punya Talenta Paduan Suara

Lebih lanjut, Rico Waas menilai Kota Medan memiliki banyak talenta paduan suara yang mampu bersaing hingga tingkat nasional.

Kebiasaan masyarakat yang dekat dengan aktivitas bernyanyi, menurutnya, merupakan modal budaya yang dapat dikembangkan melalui pembinaan secara serius dan berkelanjutan.

Karena itu, Rico mendorong LP3KD memperkuat pelatihan, pembinaan, serta regenerasi peserta agar kontingen Kota Medan mampu menunjukkan prestasi terbaik pada tingkat provinsi maupun nasional.

“Terkait perlombaan Pesparani tingkat provinsi maupun nasional, kami berharap Pesparani dari Medan akan disegani di pulau-pulau lain, akan disegani di Indonesia. Siapapun yang dari Kota Medan ini harus bisa menjadi paduan suara yang benar-benar dihormati,” tegas Rico.

Ia juga mendorong agar kelompok paduan suara Pesparani lebih sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan Pemerintah Kota Medan. Kehadiran paduan suara dinilai dapat memberikan sentuhan emosional sekaligus memperkaya suasana berbagai agenda pemerintahan dan kemasyarakatan.

587 Peserta dari 12 Paroki

Sementara itu, Ketua Panitia Pelantikan Pengurus LP3KD Kota Medan dan Pembukaan Pesparani Katolik se-Kota Medan, Edison Sibagariang, S.Sos., M.M., dalam sambutannya mengawali acara dengan pantun:

Beli selendang di Pajak Ikan,
Warnanya merah memikat hati.
Kehadiran Bapak Rico Waas sudah dinanti,
Untuk membuka acara Pesparani.

Edison menyampaikan bahwa pelaksanaan Pesparani sesuai Keputusan Wali Kota Medan Nomor 450/15/K tentang pengukuhan pengurus LP3KD menjadi langkah awal yang sah untuk merumuskan dan melaksanakan berbagai program pembinaan musik serta liturgi gerejani di tingkat Kota Medan.

Ia menegaskan, Pesparani bukan sekadar wadah kompetisi seni suara atau perlombaan, tetapi juga menjadi sarana strategis dalam pembinaan iman, pengembangan talenta, serta mempererat persaudaraan umat Katolik di Kota Medan.

Pesparani kali ini diikuti 587 peserta dari 12 paroki, dengan mempertandingkan delapan kategori perlombaan.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ajang seleksi daerah untuk mempersiapkan kontingen Kota Medan.

Sementara agenda bertutur kitab suci, mazmur, dan cerdas cermat rohani akan menjadi bagian dari seleksi kontingen Sumatera Utara yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.

Anggota DPRD Medan Antonius Devolis Tumanggor S.Sos: Jangan Seperti Kembang Api

Ketua Umum LP3KD Kota Medan, Antonius Devolis Tumanggor, S.Sos., menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas perhatian Pemerintah Kota Medan terhadap keberadaan LP3KD.

Anggota DPRD Medan Fraksi Nasdem ini mengingatkan seluruh pengurus agar tidak menjalankan organisasi secara sesaat.

Ia mengibaratkan semangat kepengurusan jangan seperti kembang api yang menyala terang, meledak sesaat, kemudian padam.

“Mari kita bergandengan tangan. Jangan seperti kembang api yang buss.. meledak lalu habis. Kita harus kontiniu jalankan program-program nyata, melakukan konsolidasi ke setiap paroki dan stasi, serta merangkul para pastor dan dewan paroki agar semua bisa tersenyum riang gembira, memohon adanya Guru-guru Agama Khatolik,
,” tegas Antonius.

Ia menambahkan, kepengurusan LP3KD Kota Medan periode 2025–2030 berkomitmen akan juga membina dan mengembangkan musik liturgi Katolik sekaligus memperkuat sinergi antara gereja dan pemerintah daerah demi kemajuan bersama.

Hadirin dan Undangan

Acara tersebut turut selain dihadiri Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, juga unsur Forkopimda Kota Medan,

Vikep Kevikepan Medan Pastor Yohannes Sampang Tumanggor,

Sumatera Utara Dr. Hendri H. Sitompul,

Ketua Umum LP3KD Kota Medan Antonius Devolis Tumanggor, S.Sos., beserta jajaran pengurus yang dilantik.

Turut hadir Kepala Pembimas Katolik Kota Medan beserta jajaran,

Para Pastor Paroki, Biarawan dan Biarawati,

Dewan Pastoral Paroki, Official,

Peserta Pesparani dari 12 Paroki Se-Kota Medan,

Panitia serta para tamu undangan.

Pelantikan dan Pesparani tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni maupun kompetisi, tetapi menjadi gerakan bersama untuk mengembangkan seni, budaya, persaudaraan, dan talenta generasi muda Kota Medan dalam semangat kebersamaan.

“Pesparani bukan sekadar lomba paduan suara, tetapi jembatan persaudaraan yang menyatukan iman, seni, dan kebudayaan.”

“Rico Waas ingin suara paduan suara tidak hanya bergema di ruang gereja, tetapi turut menghidupkan panggung seni Kota Medan.”

“Talenta tanpa pembinaan ibarat benih tanpa tanah; potensi besar membutuhkan ruang untuk tumbuh dan berkembang.”

“Paduan suara mengajarkan bahwa suara yang berbeda dapat menjadi indah ketika disatukan dalam harmoni.”

“Jangan biarkan Pesparani hanya menjadi kembang api seremoni; jadikan ia cahaya yang menyala terus dalam kehidupan seni dan budaya.”

“Pemerintah dan masyarakat yang berjalan bersama dalam harmoni akan melahirkan Kota Medan yang semakin berbudaya dan beradab.”

“Ketika seni dirawat, talenta dibina, dan persaudaraan dijaga, Medan bukan hanya menjadi kota yang maju, tetapi juga kota yang memiliki jiwa untuk maju yang takut akan Tuhan.”
(Nurlince Hutabarat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini