Medan, LINI NEWS – Wakil Ketua DPRD Kota Medan, Hadi Suhendra, melontarkan pernyataan tegas dan kontroversial: ia tidak akan lagi membantu biaya pengobatan warga yang menjadi korban tawuran di wilayah Kecamatan Medan Belawan. Keputusan itu bukan tanpa alasan—Hadi menyebutnya sebagai langkah strategis untuk menciptakan efek jera dan membendung kultur kekerasan yang selama ini terus berulang di kawasan tersebut.
“Sudah terlalu banyak saya bantu. Tapi apa hasilnya? Tawuran terus terjadi, bahkan makin brutal. Kalau ini terus dibiarkan, bukan hanya korban yang rugi—kita semua yang menanggung akibatnya,” ujar Hadi kepada awak media, Minggu (6/7).
Belawan Luka Sosial: Kemiskinan, Pendidikan Rendah, dan SDM Tertinggal
Menurut Hadi, akar dari maraknya aksi tawuran bukan semata karena kenakalan remaja, tetapi juga terkait persoalan sistemik: kemiskinan, rendahnya akses pendidikan, dan buruknya kualitas sumber daya manusia (SDM) di kawasan pesisir tersebut.
“Sering saya temukan keluarga yang menjual harta, bahkan rumah, demi membiayai pengobatan anaknya yang luka akibat tawuran. Ini bukan hanya tragedi sosial, tapi juga kehancuran ekonomi keluarga,” kata politisi Partai Golkar tersebut dengan nada prihatin.
Langkah Nyata: Turun ke Lingkungan, Dialog Bersama Warga
Sebagai bentuk komitmen nyata, Hadi mengumumkan rencananya untuk terjun langsung ke lingkungan-lingkungan rawan tawuran di Belawan pada akhir bulan ini. Ia akan menginisiasi forum dialog bersama Tokoh Masyarakat, aparat kelurahan, kepolisian, hingga Pimpinan Organisasi kepemudaan.
“Saya bukan aparat penegak hukum, tapi saya punya gagasan. Mari kita satukan kekuatan moral dan sosial. Karena kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” ucapnya tegas.
Mushola 24 Jam dan Pendidikan Akhlak: Perlawananva Lewat Spiritualitas
Selain pendekatan sosial dan edukatif, Hadi juga mengangkat isu krisis moral generasi muda. Ia menyoroti lunturnya budaya menghormati orang tua dan hilangnya nilai-nilai etika dalam pergaulan remaja Belawan.
Sebagai respons, ia mendirikan mushola yang buka 24 jam di Kantor Pemuda Pancasila (PP) Belawan. Tempat ibadah tersebut tidak hanya menjadi pusat pengajian, tetapi juga wadah pembentukan karakter.
“Kalau SPBU saja bisa buka 24 jam, mengapa rumah ibadah tidak?
Kita harus hadirkan ruang spiritual yang aktif siang dan malam untuk menyelamatkan anak-anak kita dari arus negatif,” tegasnya.
Tak berhenti di komunitas Muslim, Hadi juga mengajak semua umat beragama di Belawan untuk menjadikan rumah ibadah—masjid, gereja, vihara, dan lainnya—sebagai pusat pendidikan karakter dan penguatan nilai moral lintas iman.
“Tawuran ini bukan sekadar masalah agama atau ekonomi. Ini krisis moralitas. Dan hanya dengan kerja sama lintas sektor dan lintas iman, Belawan bisa bangkit dari luka sosialnya.”(Nurlince Hutabarat)




