Medan, LINI NEWS – Komitmen menjaga keamanan dan ketertiban Kota Medan ditegaskan langsung oleh Jean Calvijn Simanjuntak melalui pelaksanaan Tactical Floor Game (TFG) SispamKota yang berlangsung di Aula Dhira Brata Sat Brimob Polda Sumut, Kamis (23/4/2026).
Kegiatan ini menjadi simulasi strategis untuk memastikan kesiapan penuh aparat gabungan dalam menghadapi potensi gangguan keamanan di wilayah perkotaan.
Dalam arahannya, Kapolrestabes menekankan bahwa pengamanan kota bukan sekadar rutinitas, melainkan operasi terpadu yang membutuhkan presisi, koordinasi, dan kecepatan bertindak di lapangan.
Fokus pengamanan diarahkan pada objek vital strategis seperti Kantor DPRD Sumatera Utara, DPRD Kota Medan, Kantor Gubernur Sumut, dan Kantor Wali Kota Medan.
Sebanyak 3.800 personel gabungan dari Polri, TNI, dan Pemerintah Kota Medan disiagakan dan ditempatkan di titik-titik krusial.
Selain itu, langkah preventif diperkuat dengan pembentukan Tim penyekat di pintu-pintu masuk kota seperti Terminal Amplas dan Pinang Baris guna mengantisipasi pergerakan massa dari luar daerah.
“Medan berbatasan langsung dengan wilayah strategis seperti Deli Serdang, Binjai, dan Tanah Karo. Mobilitas massa harus dikendalikan secara terukur dan profesional,” tegas Kapolrestabes.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap turut menyoroti pentingnya keterlibatan seluruh elemen kota dalam menjaga stabilitas.
Ia menekankan bahwa potensi gangguan tidak hanya berdampak pada aparat, tetapi juga pada sektor publik seperti pusat perbelanjaan, sekolah, dan rumah sakit.
Menurutnya, objek vital seperti mal sering menjadi sasaran dalam situasi tidak terkendali.
Oleh karena itu, kesiapan layanan kesehatan dan sistem respons darurat menjadi bagian penting dalam skenario pengamanan.
Simulasi ini juga menggarisbawahi peran penting media sosial dalam dinamika pergerakan massa.
Aparat telah menyiapkan Tim khusus untuk memantau potensi mobilisasi digital serta membentuk tim penegakan hukum guna mengantisipasi pelanggaran yang mungkin terjadi.
Meski demikian, Kapolrestabes memastikan bahwa kebebasan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi tetap dijamin, selama dilakukan secara tertib dan sesuai aturan.
Peran liaison officer (LO) dinilai krusial sebagai penghubung komunikasi antara massa dan aparat untuk mencegah kesalahpahaman di lapangan.

TFG SispamKota ini menjadi bukti bahwa sinergi lintas sektor bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan nyata dalam menjaga kondusivitas kota agar aktivitas masyarakat tetap berjalan aman, lancar, dan terkendali.
Keamanan kota bukan menunggu ancaman datang, tetapi memastikan ancaman tak pernah sempat berkembang.
Kesiapsiagaan adalah harga mati dalam menjaga stabilitas sebuah kota besar.
Koordinasi tanpa aksi adalah lemah, aksi tanpa koordinasi adalah kacau.
Ketertiban bukan kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan yang disiplin.
Setiap celah pengamanan adalah peluang bagi gangguan—dan itu harus ditutup rapat.
Kekuatan terbesar pengamanan bukan jumlah personel, tetapi soliditas dan kecepatan respon.
Aspirasi boleh disuarakan, tetapi ketertiban tetap menjadi batas yang tidak bisa ditawar.
(Nurlince Hutabarat)




