Medan, LINI NEWS – Angin panas kasus salah tangkap empat personel Satreskrim Polrestabes Medan mulai berembus ke ranah politik dan moral publik. Setelah badai kritik muncul dari berbagai pihak, Kapolrestabes Medan Kombes Jean Calvijn Simanjuntak mengumumkan rencananya bertemu langsung dengan Ketua DPW NasDem Sumatera Utara, Iskandar ST, untuk membahas penyelesaian masalah yang sempat mencoreng wajah penegakan hukum di Kota Medan.
“Saya sudah komunikasi dengan beliau. Puji Tuhan, hasilnya baik. Nanti kita akan duduk bersama untuk membicarakan hal-hal yang konstruktif,” ujar Calvijn usai konferensi pers di Mapolrestabes Medan, Sabtu (18/10/2025).
Pertemuan dua figur ini dipandang penting, mengingat korban salah tangkap disebut-sebut memiliki kedekatan dengan kalangan politik. Namun, Calvijn menegaskan langkah ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari upaya membangun kembali kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
“Kita tidak boleh malu untuk memperbaiki yang salah. Yang penting adalah kejujuran dalam memperbaiki,” tegas mantan Dirresnarkoba Polda Sumut itu, dengan nada tegas namun tenang.
“Kita akan jalankan hal-hal yang baik. Semoga kasus ini cepat selesai dengan penuh kebijaksanaan dan menjadikan Kota Medan tetap aman dan berwibawa,” lanjutnya.
Sementara itu, empat personel Satreskrim yang diduga melakukan salah tangkap telah diamankan di penempatan khusus (patsus) oleh Bidpropam Polda Sumut. Kabid Humas Polda Sumut memastikan, proses etik dan hukum tetap berjalan.
“Propam sedang mendalami dugaan kelalaian mereka. Polda Sumut menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat,” ujar sumber di lingkungan Polda Sumut.
Calvijn yang dikenal berkarakter tegas namun humanis memilih tidak berkomentar panjang soal kasus scamming dan judi online yang tengah ditangani pihaknya. Ia hanya melempar senyum tipis dan langsung menuju ruang Satreskrim — seakan ingin menunjukkan bahwa kerja nyata lebih penting daripada retorika.
Pesan dari Insiden Salah Tangkap:
“Kesalahan tidak akan jadi aib jika diiringi kejujuran untuk memperbaiki.”
“Keadilan sejati lahir bukan dari kesempurnaan, tapi dari keberanian mengakui kekeliruan.”
“Hukum harus tajam kejahatan, tapi lembut kepada kebenaran.”
“Integritas seorang pemimpin diuji bukan saat ia benar, melainkan saat ia mengakui salah.”
“Ketegasan tanpa nurani adalah kekerasan; nurani tanpa ketegasan adalah kelemahan.”
“Reformasi hukum dimulai dari keberanian menghapus arogansi.”
“Kota yang aman bukan lahir dari ketakutan, tapi dari kepercayaan yang tumbuh kembali.”
Pertemuan antara Kapolrestabes Medan dan Ketua NasDem Sumut bukan sekadar langkah politik, tapi simbol rekonsiliasi moral antara aparat hukum dan rakyat yang terluka oleh kesalahan prosedural. Dalam konteks inilah, “keamanan” tak lagi sekadar tugas polisi — melainkan hasil dari keberanian untuk memperbaiki luka dengan hati yang jujur. (Nurlince Hutabarat)




