Ibu Bhayangkari Penunjuk Arah Helikopter: Kisah Perjuangan Menembus Desa Terisolir di Tapanuli Tengah

0
128

Tapanuli Tengah, LINI NEWS – Di balik viralnya rekaman helikopter bantuan yang mendarat di kawasan terpencil pascabencana banjir bandang dan longsor di Tapanuli Tengah, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu Bhayangkari bernama Marlina, istri anggota Polri yang bertugas di Polres Tapanuli Tengah. Ia menjadi sosok kunci yang memandu langsung pilot helikopter menuju Desa Bonandolok, wilayah yang terputus total dan tak terjangkau jalur darat sejak bencana melanda. Peristiwa itu terjadi pada Minggu, 7 Desember 2025.

Duka Berlapis di Tengah Bencana

Dalam kesaksiannya, Marlina menuturkan bahwa bencana besar tersebut datang tanpa peringatan. Pada Selasa pagi, keluarganya masih dirundung duka karena empat anggota keluarga satu marga Tobing meninggal dunia akibat tertimbun longsor. Belum sempat melayat, banjir dan longsor susulan melumpuhkan seluruh akses wilayah.

“Rumah kami tidak kena air, jadi warga mengungsi ke rumah kami. Listrik mati, air hilang, jaringan putus. Rasanya gelap sekali,” ungkap Marlina lirih.

Rumah Marlina mendadak menjadi pos pengungsian dadakan. Ratusan warga datang berlindung sejak Rabu pagi. Bahkan, Wakapolres sempat singgah sebentar untuk memulihkan tenaga.

Perjalanan Panjang Mencari Beras

Pada Jumat pagi, Marlina bertemu rombongan warga kampung yang berjalan kaki 3–4 jam hanya untuk mendapatkan beras. Mereka menitipkan uang dan meminta Marlina mencarikannya untuk dibawa kembali ke kampung.

“Kami menangis semua. Mereka berjalan jauh hanya demi beras. Saya antar, dan saya doakan mereka tiba selamat,” ujarnya.

Di tengah kekacauan itu, Marlina juga mendapat kabar bahwa rumah orang tua, saudara, dan beberapa keluarganya amblas terbawa longsor.

Menebas Hutan Demi Membuka Akses

Situasi semakin genting. Marlina bersama warga kemudian berinisiatif mencari jalur alternatif menuju Bukit Anugrah. Mereka menebas hutan secara manual, berharap bisa membuka akses minimal untuk dilalui kendaraan kecil.

Usaha itu berlangsung hingga larut malam. Dalam kondisi tersesat, tanpa penerangan, dan ponsel kehabisan baterai, Marlina memutuskan pergi ke GOR untuk mengisi daya. Keputusan sederhana itu ternyata menjadi titik balik.

Pertemuan Tak Terduga dengan Pimpinan Daerah

Di GOR, Marlina bertemu Wakil Bupati Tapanuli Tengah dan kemudian Gubernur Sumatera Utara, yang saat itu sedang melakukan monitoring lapangan. Mengetahui Marlina memahami persis lokasi-lokasi terdampak, Gubernur memintanya turut dalam penerbangan survei titik landing helikopter bantuan.

“Dari atas terlihat seperti tidak ada penghuni, padahal warga sudah menyebar mencari tempat aman,” tuturnya.

Dengan koordinasi bersama pihak Lanud, titik pendaratan darurat dihitung ulang. Pada Selasa siang, helikopter akhirnya berhasil menembus kabut dan mendarat di area terbuka—dipandu langsung oleh Marlina dari udara.

Momen Paling Mengharukan

Begitu turun dari helikopter, Marlina langsung berlari ke keluarga yang sudah berhari-hari terisolasi.

“Kami berpelukan. Hanya detik, tapi rasanya seperti selamanya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Bantuan logistik kemudian diturunkan, menjadi harapan pertama yang nyata bagi warga Desa Bonandolok sejak bencana menghantam.

Apresiasi Polda Sumatera Utara

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, menyampaikan apresiasi atas keberanian Marlina.

“Bu Marlina menunjukkan bahwa Bhayangkari bukan hanya pendamping suami, tetapi garda kemanusiaan. Keberaniannya membuka akses bantuan sangat berarti bagi keselamatan warga,” tegas Ferry.

Ia menambahkan, Marlina tetap membantu meski dirinya juga sedang dirundung duka.

“Kami bangga. Saat banyak orang menyelamatkan diri, ia justru memilih berdiri paling depan.”

Tetap Mengawal Bantuan

Hingga kini, jalur menuju kampung asal Marlina masih belum terbuka sepenuhnya.

“Kalau ada bantuan, turunkan saja sejauh mobil bisa masuk. Nanti saya antar. Yang penting sampai ke warga,” ujarnya.

Kisah Marlina bukan sekadar viral. Ia adalah simbol keteguhan, kepedulian, dan keberanian seorang ibu Bhayangkari yang tetap berdiri di garis depan kemanusiaan. Ia bukan hanya penunjuk arah helikopter—ia penunjuk arah harapan.

“Ketika jalan tertutup lumpur, keberanianlah yang menebas hutan dan membuka arah.”

“Bencana bisa memisahkan rumah, tapi tidak pernah memisahkan manusia dari kasih dan kepeduliannya.”

“Seorang perempuan yang berani melangkah di tengah gelap, adalah cahaya bagi ribuan orang yang menunggu harapan.”
(Nurlince Hutabarat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini