Medan, LINI NEWS – Persoalan penumpukan sampah di lingkungan permukiman Kota Medan kembali mengemuka dan menjadi perhatian serius DPRD Kota Medan. Anggota DPRD Medan dari Komisi IV, Antonius Devolis Tumanggor, S.Sos, mendorong Pemerintah Kota Medan untuk segera menganggarkan 2.100 unit becak sampah sebagai solusi konkret memperkuat sistem pengangkutan sampah hingga ke gang-gang sempit dan kawasan padat penduduk.
Usulan tersebut disampaikan Antonius dalam rapat evaluasi anggaran Triwulan IV bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mitra kerja Komisi IV DPRD Medan. Menurutnya, masalah sampah bukan semata persoalan produksi, melainkan lemahnya mata rantai pengangkutan dari sumber ke titik pengolahan.
“Sampah tidak pernah salah, yang sering keliru adalah cara kita mengelolanya,” ujar Antonius, Senin (5/12).
Armada Besar Tak Menjangkau Semua Wilayah
Antonius menilai, keterbatasan armada pengangkut sampah berukuran besar menjadi penyebab utama masih maraknya tumpukan sampah di lingkungan permukiman. Banyak kawasan di Kota Medan yang tidak dapat dijangkau truk sampah karena akses jalan sempit dan padat.
“Ketika armada besar berhenti di jalan utama, maka becak sampah adalah tangan negara yang menjangkau rumah warga,” tegasnya.
Ia menekankan, keberadaan becak sampah bukan sekadar alat angkut, tetapi instrumen pelayanan publik yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
“Pelayanan publik yang baik dimulai dari lorong-lorong kecil yang sering luput dari perhatian,” tambah Antonius.
Dukungan Program Waste to Energy
Lebih lanjut, Antonius mengingatkan bahwa Kota Medan telah masuk dalam program strategis nasional pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy) melalui kerja sama dengan tiga kementerian dan pihak ketiga. Oleh karena itu, kesiapan sarana dan prasarana dari hulu ke hilir menjadi keharusan mutlak.
“Tidak boleh ada proyek besar yang pincang hanya karena urusan teknis di lapangan diabaikan,” katanya.
Ia mengingatkan, jika pengangkutan sampah dari lingkungan tidak optimal, maka pasokan bahan baku ke fasilitas pengolahan akan terganggu.
“Program energi bersih hanya akan jadi wacana jika sampah tak sampai ke tempat pengolahan,” ujarnya lugas.
Soroti BBM dan Perawatan Armada
Selain pengadaan becak sampah, Antonius juga menyoroti pentingnya kecukupan anggaran bahan bakar minyak (BBM) serta biaya perawatan armada pengangkut sampah di tingkat kecamatan dan kelurahan. Menurutnya, armada yang ada sering terparkir bukan karena rusak berat, melainkan karena minimnya dukungan operasional.
“Armada boleh ada, tapi tanpa BBM dan perawatan, ia hanya akan menjadi besi tua,” sindirnya.
DLH Medan: PLTSa Ditargetkan 2027–2028
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan, Melvi Malrabayana, menjelaskan bahwa pemerintah pusat telah menjalin kerja sama investasi pengolahan sampah dengan Pemko Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Program ini ditargetkan melahirkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) pada 2027–2028.
“Pengelolaannya melalui Danantara. Ini merupakan langkah besar menuju pengelolaan sampah terpadu di wilayah Medan dan sekitarnya,” jelas Melvi.
Berdasarkan data tahun 2025, Kota Medan menghasilkan sekitar 1.700–1.800 ton sampah per hari, jumlah yang dinilai sangat memadai sebagai bahan baku PLTSa, terlebih jika digabungkan dengan pasokan dari Kabupaten Deli Serdang.
Tambahan Lahan dan Target Pasokan Sampah
Pemko Medan juga telah memperoleh tambahan lahan seluas 4,98 hektare di Kelurahan Terjun untuk mendukung peningkatan kapasitas pengelolaan sampah. Kota Medan ditargetkan mampu memasok 1.300 ton sampah per hari ke fasilitas pengolahan energi listrik.
“Pengangkutan dari sumber sampah ke lokasi pisel akan dimulai pada April 2026. Saat ini masih tahap pematangan lahan,” terang Melvi.
Ia menambahkan, Pemko Medan telah menyalurkan satu unit truk sampah ke Kecamatan Medan Amplas. Untuk mekanisme pengadaan armada menjadi kewenangan Dinas Lingkungan Hidup, sementara perawatan dan operasional berada di bawah tanggung jawab kecamatan.
“Pengelolaan sampah adalah kerja kolektif; jika satu mata rantai putus, seluruh sistem akan lumpuh,” pungkasnya.
(Nurlince Hutabarat)




