Medan, LINI NEWS – Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sumatera Utara menyalurkan 7 ton bantuan sembako kepada warga Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Kota Sibolga yang terdampak bencana banjir. Aksi kemanusiaan ini menjadi bentuk kepedulian nyata terhadap masyarakat yang tengah menghadapi krisis akibat bencana alam.
Bantuan tersebut diberangkatkan pada Jumat (19/12) menggunakan satu unit truk dari Vihara Maitreya, Jalan Cemara Asri Boulevard Raya No. 8, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, menuju wilayah terdampak banjir di Tapanuli Tengah dan Sibolga.
Ketika alam murka, kemanusiaan tak boleh diam.
Wujud Solidaritas Permabudhi Sumut
Ketua Permabudhi Sumut, Drs. Wong Chun Sen Tarigan, M.Pd.B, melalui perwakilannya PDTm. Ang Pun Siong, yang didampingi Budi Malem, SMt, PDT. Irwanto, dan Akhai, menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan hasil solidaritas para pengurus Permabudhi Sumut bersama para donatur dan dermawan.
Empati adalah bahasa paling jujur dalam bencana.
“Bantuan ini adalah bentuk empati dan kepedulian kami kepada saudara-saudara yang sedang menghadapi cobaan berat akibat banjir,” ujar Ang Pun Siong.
Isi dan Jenis Bantuan
Adapun 7 ton bantuan sembako yang disalurkan meliputi beras, mi instan, minyak goreng, gula, serta berbagai kebutuhan dasar lainnya seperti pakaian layak pakai, pakaian dalam, obat-obatan, sabun, alat tulis, dan buku. Bantuan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan warga yang hingga kini masih bertahan di lokasi pengungsian.
Bantuan sederhana dapat menjadi harapan besar bagi yang kehilangan segalanya.
Alasan Penyaluran Bantuan
Menurut Ang Pun Siong, penyaluran bantuan ini dilakukan karena masih banyak warga terdampak banjir yang membutuhkan dukungan logistik, terutama kebutuhan pokok harian dan perlengkapan kesehatan.
Bencana menguji alam, kepedulian menguji nurani.
Komitmen Berkelanjutan
Ia menambahkan, Permabudhi Sumut tidak hanya bergerak di Tapanuli Tengah dan Sibolga. Sebelumnya, bantuan serupa juga telah disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak banjir lainnya, termasuk Aceh dan beberapa kawasan di Kota Medan seperti Medan Polonia, Belawan, serta titik-titik rawan banjir lainnya.
Kemanusiaan tak mengenal jarak, suku, maupun keyakinan.
Doa dan Harapan
Atas nama pengurus Permabudhi Sumut, Ang Pun Siong turut menyampaikan belasungkawa mendalam kepada seluruh korban bencana banjir di Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Utara.
Doa adalah bantuan yang tak terlihat, namun paling tulus.
“Semoga bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat. Kami juga mendoakan seluruh korban senantiasa diberikan kesehatan, serta bagi keluarga yang masih dalam proses pencarian, semoga segera ditemukan dan dapat berkumpul kembali,” ucapnya.
Menutup pernyataannya, ia menegaskan bahwa Permabudhi Sumut akan terus hadir dalam setiap panggilan kemanusiaan.
Melama masih ada kepedulian, harapan tidak akan pernah tenggelam.
(Nurlince Hutabarat)




