Jakarta, LINI NEWS – Momen istimewa dan sarat makna berlangsung di Gereja Katolik St. Mathias Cinere, Pangkalan Jati, Pondok Labu, Jakarta Selatan, saat Advokat Senior Salim Halim SH MH dengan penuh hormat menghadiri pesta adat pernikahan ponaan terkasih Falentius Tarihoran, yakni Samuel Richard Mart Nainggolan B.Des dan Vinsesa Vita Longa Napitupulu SE MBA.
Pasangan muda ini merupakan simbol bersatunya dua keluarga besar yang sarat prestasi dan nilai budaya. Samuel Richard, putra dari Dr. Bernard Nainggolan SH MH dan Ibu Ril Ellys Br Napitupulu SH M.Si, menyatu dalam janji suci dengan Vinsesa Vita Longa, putri dari Deskasih Napitupulu SH dan Ibu Debora Devi Yanti Br Malau, serta Ir. Richard Kadar Utomo M.Ec.Dev., MAPPI (Cert) dan Ibu Essy Daru Ningsih S.Pd.
Perpaduan Adat, Iman dan Cinta
Dalam nuansa sakral penuh cinta kasih, prosesi pemberkatan dipimpin oleh Romo Dionsous, yang juga merupakan keluarga dekat (Namboru) dari pihak mempelai pria. Prosesi diawali dengan langkah penuh hormat menuju altar, melambangkan kesiapan kedua mempelai untuk memasuki hidup baru dengan restu Tuhan dan leluhur.
Dalam pernikahan Katolik, fondasi kebebasan, kesetiaan, dan keterbukaan terhadap kehidupan menjadi landasan utama. Janji suci yang mereka ucapkan tak hanya sebatas ikatan lahiriah, melainkan juga menjadi saksi kasih ilahi di tengah dunia.

Salim Halim SH MH: Kehadiran yang Sarat Makna
Sebagai tokoh hukum nasional yang dikenal tegas namun berhati lembut, kehadiran Salim Halim SH MH bukan hanya sebagai undangan kehormatan, melainkan sebagai simbol restu dan penguatan nilai-nilai budaya serta spiritual dalam ikatan pernikahan ini.
Dalam ucapan selamatnya, Falentius SH juga menyampaikan amanah penuh makna kepada kedua mempelai: “Cinta sejati bukan ditemukan, tetapi dibangun dari hari ke hari, dalam peluh, doa, dan pengorbanan yang tulus.” “Rumah tangga adalah ladang pelayanan; saling melayani adalah ibadah yang paling abadi.” “Dalam badai sekalipun, pasangan yang saling menggenggam tangan tak akan pernah tenggelam.”
Sebagai bagian dari adat Dalihan Na Tolu, tak lupa Salim Halim SH MH menyampaikan tiga umpasa Batak sebagai restu adat kepada kedua mempelai:
“Anakkon hi do hamoraon di au,
Artinya: Anakku adalah hartaku yang paling berharga.
Doa agar keturunan mereka menjadi berkat dan kebanggaan keluarga.
“Sai pasangapon ma di hita,
Artinya: Kiranya kemuliaan dan kehormatan senantiasa menyertai kita.
Restu agar rumah tangga mereka dihormati dan dijunjung tinggi.
“Sai horas ma tu jabu ni roha, tu jabu ni tondi, tu jabu ni tangiang,
Artinya: Semoga berkat selalu hadir di rumah kasih, rumah jiwa, dan rumah doa kalian.
Simbol harapan akan kehidupan keluarga yang sejahtera, damai, dan spiritual.
Pernikahan Samuel dan Vinsesa bukan hanya menyatukan dua insan, tetapi juga mempertemukan dua budaya luhur: Batak dan Jawa, dalam ikatan kasih ilahi. Dan kehadiran Salim Halim SH MH, Tokoh hukum yang dikenal arif dan menjunjung tinggi nilai budaya, menjadi penanda bahwa cinta, adat, dan iman masih teguh berdiri sebagai tiang utama kehidupan bangsa.
Horas, selamat menempuh hidup baru!
(Nurlince Hutabarat)




