Medan, LINI NEWS – Wali Kota Medan Apresiasi: Pesparani Bukan Sekadar Lomba, tetapi Wadah Persaudaraan dan Pembinaan Talenta.
Antonius Tumanggor Pimpin LP3KD Medan- Paska Dipimpin Pastor
Anggota DPRD Kota Medan sekaligus Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) Kota Medan, Antonius Devolis Tumanggor, S.Sos., menegaskan bahwa pelaksanaan pertandingan koor dalam Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik bukan semata-mata untuk mengejar kemenangan, tetapi menjadi wadah pembinaan talenta, kebersamaan, dan persaudaraan umat Katolik di Kota Medan.
Hal tersebut disampaikan Antonius dalam pelaksanaan perlombaan koor Pesparani LP3KD Kota Medan yang berlangsung di Gedung Gereja Katolik Katedral, Jalan Mataram, Medan, Sabtu (5/9/2026).
Suasana Perlombaan Berlangsung Penuh Semangat.
Peserta dari berbagai paroki menunjukkan kemampuan terbaik melalui harmonisasi suara, kekompakan kelompok, penghayatan lagu, serta penampilan yang mencerminkan semangat pelayanan dan kebersamaan.

Antonius Tekankan Makna Pesparani
Antonius mengatakan, Pesparani memiliki nilai yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar kompetisi.
Menurutnya, setiap peserta yang tampil telah memberikan kontribusi dalam membangun semangat persaudaraan sekaligus mengembangkan potensi seni suara yang dimiliki umat Katolik.
“Pesparani bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun kebersamaan, mengembangkan talenta dan menghadirkan sukacita melalui seni dan paduan suara,” ujar Antonius.
Ia berharap para peserta tidak menjadikan hasil perlombaan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Kekompakan, disiplin, semangat berlatih, serta keberanian tampil merupakan bagian penting dari proses pembinaan.
12 Paroki Tunjukkan Talenta
Pesparani Kota Medan
Diikuti peserta dari 12 paroki, dengan berbagai kategori perlombaan.
Khusus pertandingan koor, para peserta berusaha menampilkan kualitas vokal dan harmonisasi terbaik di hadapan dewan juri.
Antonius menilai keberadaan banyak kelompok paduan suara dari berbagai paroki menunjukkan bahwa Kota Medan memiliki potensi besar dalam pengembangan seni suara.

Potensi tersebut, menurutnya, harus terus dibina agar tidak berhenti pada momentum perlombaan.
“Kita ingin talenta-talenta ini terus berkembang. Jangan hanya berlatih ketika ada perlombaan. Pembinaan harus dilakukan secara berkelanjutan sehingga kualitas paduan suara Kota Medan semakin baik,” katanya.
Dorong Pesparani Jadi Agenda Rutin
Antonius juga menyambut baik dorongan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas agar kegiatan Pesparani dapat dikembangkan menjadi agenda seni dan budaya yang rutin di Kota Medan.
Menurutnya, gagasan tersebut sejalan dengan semangat LP3KD untuk memperluas ruang pembinaan dan memberikan kesempatan kepada kelompok paduan suara untuk terus berkreasi.
Dengan kegiatan yang dilaksanakan secara rutin, Pesparani diharapkan bukan hanya menjadi ajang persiapan menuju perlombaan tingkat provinsi atau nasional, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan seni dan budaya Kota Medan.
Koor Mengajarkan Harmoni
Antonius mengibaratkan paduan suara sebagai gambaran kehidupan bermasyarakat.
Setiap suara memiliki karakter dan warna berbeda. Namun ketika dinyanyikan dengan disiplin, kekompakan, dan keselarasan, perbedaan tersebut justru menghasilkan harmoni yang indah.
Nilai tersebut, menurut Antonius, sangat relevan dalam kehidupan masyarakat Kota Medan yang terdiri atas berbagai latar belakang.
“Dari koor kita belajar bahwa suara yang berbeda tidak harus saling mengalahkan. Ketika disatukan dalam harmoni, justru menghasilkan sesuatu yang lebih indah,” ungkapnya.
Karena itu, Antonius mengajak seluruh peserta menjadikan Pesparani sebagai momentum mempererat tali persaudaraan, menjaga sportivitas, serta membangun semangat kebersamaan.
LP3KD Berkomitmen Membina Talenta
Sebagai Ketua LP3KD Kota Medan, Antonius menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pembinaan paduan suara dan musik liturgi di berbagai paroki dan stasi.
Ia berharap kepengurusan LP3KD periode 2025–2030 dapat menjalankan program secara nyata dan berkelanjutan, bukan hanya aktif ketika menjelang perlombaan.
Antonius juga mengajak seluruh pengurus, paroki, pastor, dewan pastoral, peserta, serta masyarakat untuk bersama-sama membangun ekosistem Pesparani yang semakin kuat.
Dengan demikian, prestasi menjadi hasil dari proses pembinaan, sementara persaudaraan menjadi nilai utama yang tetap terjaga.
Pelaksanaan perlombaan koor Pesparani di Gereja Katolik Katedral Jalan Mataram tersebut pun menjadi salah satu momentum penting untuk memperlihatkan bahwa seni suara dapat menjadi sarana memperkuat iman, persaudaraan, dan kontribusi umat bagi kehidupan sosial Kota Medan.
Refleksi Pelaksanaan Perlombaan Koor Pesparani di Gereja Katolik Katedral Antonius Tumanggor:
“Pesparani bukan sekadar mencari juara, tetapi mencari makna dalam kebersamaan, pelayanan, dan persaudaraan.”
“Dalam koor, suara boleh berbeda, tetapi hati harus tetap satu dalam harmoni.”
“Talenta tidak boleh hanya muncul ketika lomba; talenta harus dibina agar menjadi kekuatan yang berkelanjutan.”
“Kemenangan terbesar Pesparani bukan hanya membawa pulang piala, tetapi membawa pulang persaudaraan.”
“Ketika setiap suara menghargai suara lainnya, lahirlah harmoni yang tidak dapat diciptakan oleh satu suara saja.”
“LP3KD harus bergerak nyata dari paroki hingga stasi, karena pembinaan yang kuat lahir dari kebersamaan.”
“Paduan suara mengajarkan kita: perbedaan bukan alasan untuk berpisah, melainkan kekuatan untuk menciptakan harmoni.”
Selamat dan Sukses. Semoga Tuhan berkati!
(Nurlince Hutabarat)




