Medan, LINI NEWS – Momentum peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 pada 19 Maret 2026 dan Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah pada 21 Maret 2026 menjadi ruang batin yang sangat bermakna bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Kota Medan, untuk kembali meneguhkan semangat persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan di tengah keberagaman, Selasa 17 Maret 2026
Sejumlah kalangan menilai, dua momentum besar keagamaan yang hadir dalam waktu berdekatan ini bukan sekadar perayaan ritual umat beragama, melainkan juga menjadi simbol kuat tentang harmoni sosial, penghormatan atas perbedaan, serta pengingat bahwa kedamaian bangsa hanya dapat dirawat melalui saling pengertian.
Dalam suasana yang sarat makna itu, Anggota DPRD Medan mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Nyepi dan Idulfitri sebagai titik refleksi bersama dalam membangun Kota Medan yang damai, inklusif, dan penuh rasa persaudaraan.
Menurutnya, Nyepi mengajarkan keheningan, pengendalian diri, dan perenungan, sementara Idulfitri menghadirkan semangat saling memaafkan, kembali suci, dan mempererat silaturahmi.
Dua nilai besar itu, bila dipadukan dalam kehidupan sosial, akan melahirkan masyarakat yang tidak mudah terpecah, tidak gampang diadu domba, dan semakin kokoh dalam kebersamaan.
“Perbedaan bukan alasan untuk menjauh, tetapi justru jembatan untuk saling memahami.
Nyepi dan Idulfitri mengajarkan kita bahwa kebesaran bangsa ini lahir dari kemampuan merawat keberagaman dengan hati yang lapang,” ungkapnya.
Ia menegaskan, Kota Medan sebagai kota multietnis, multikultural, dan multiagama memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjadi contoh hidupnya toleransi.
Dalam konteks itu, perayaan hari besar keagamaan harus dimaknai lebih dalam sebagai upaya memperkuat persatuan, bukan hanya dalam tataran seremonial, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut dia, masyarakat Medan selama ini telah menunjukkan kedewasaan sosial yang baik dalam menjaga hubungan antarumat beragama.
Nilai-nilai gotong royong, penghormatan terhadap tradisi, dan kebiasaan saling menjaga saat perayaan keagamaan merupakan aset sosial yang harus terus dirawat.
Ia juga mengingatkan bahwa di tengah tantangan zaman, seperti derasnya arus informasi, polarisasi sosial, dan kecenderungan munculnya sentimen identitas, masyarakat harus semakin bijak menjaga keharmonisan.
Hari raya, katanya, tidak boleh berhenti pada simbol perayaan, melainkan harus menjelma menjadi energi sosial untuk mempererat ikatan kemanusiaan.
Nyepi dan Idulfitri, Dua Jalan Spiritualitas yang Bertemu dalam Nilai Kemanusiaan
Secara filosofis, Nyepi dan Idulfitri memang lahir dari tradisi keagamaan yang berbeda.
Namun, keduanya bertemu pada satu simpul yang sama, yakni penyucian diri, pengendalian hawa nafsu, dan perbaikan hubungan antarsesama.
Nyepi mengajak manusia memasuki ruang sunyi untuk mendengar suara hati, membersihkan pikiran, dan menata ulang keseimbangan hidup.
Sementara Idulfitri datang setelah perjalanan Ramadan yang penuh latihan kesabaran, keikhlasan, dan empati terhadap sesama.
Di sanalah letak keindahan Indonesia. Perbedaan jalan spiritual tidak melahirkan jurang pemisah, melainkan memperlihatkan bahwa semua ajaran luhur agama pada akhirnya menuju nilai yang sama:
Kedamaian,
Kasih sayang, dan
Penghormatan terhadap martabat manusia.
Anggota DPRD Medan itu menilai, semangat seperti inilah yang harus terus ditanamkan kepada generasi muda. Bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan sikap hidup. Bahwa kebersamaan bukan hanya hadir saat senang, tetapi juga ketika masyarakat saling menjaga ruang ibadah, saling menghormati tradisi, dan saling memberi rasa aman dalam menjalankan keyakinan masing-masing.
Idulfitri 21 Maret dan Nyepi 19 Maret 2026
Sebagai refleksi atas dua momentum suci tersebut,
Idulfitri dan Nyepi sebagai Simbol Toleransi dan penguat Kebersamaan:
“Nyepi mengajarkan hening untuk mengenal diri, Idulfitri mengajarkan maaf untuk mengenal sesama; keduanya bertemu dalam jalan kemanusiaan.”
“Dalam sunyi Nyepi, manusia belajar menata hati; dalam sucinya Idulfitri, manusia belajar membuka hati. Dari keduanya lahirlah persaudaraan sejati.”
“Perbedaan iman tidak pernah menghalangi persatuan, bila hati sama-sama menjunjung kasih, hormat, dan kedamaian.”
“Nyepi dan Idulfitri adalah dua cahaya yang berbeda warna, namun sama-sama menerangi jalan toleransi bangsa.”
“Bangsa yang besar bukan bangsa yang seragam, melainkan bangsa yang mampu hidup rukun di tengah segala perbedaan.”
“Saat satu umat berhening, dan umat lain bertakbir, Indonesia seharusnya semakin mengerti arti indahnya saling menghormati.”
“Idulfitri memulihkan hubungan antarmanusia, Nyepi memulihkan hubungan manusia dengan batinnya; keduanya memperkuat kebersamaan dalam kehidupan berbangsa.”
Ajakan Menjaga Harmoni Sosial
Lebih lanjut, ia berharap peringatan Nyepi dan Idulfitri tahun ini tidak hanya dirayakan secara seremonial, tetapi juga menjadi momen memperkuat komitmen bersama untuk menjaga kerukunan antarumat beragama di Kota Medan.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh adat, pemuda, hingga jajaran pemerintah, untuk terus menjadi pelopor harmoni.
Menurutnya, menjaga toleransi tidak cukup hanya disampaikan dalam pidato, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata: menjaga ucapan, menghormati perayaan agama lain, menolak provokasi, dan membiasakan dialog dalam setiap perbedaan.
“Medan harus menjadi rumah bersama yang nyaman bagi semua. Semangat Nyepi dan Idulfitri mengingatkan kita bahwa damai itu dibangun dengan ketulusan, dan persatuan dirawat dengan saling menghormati,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Anggota DPRD Medan tersebut menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu yang merayakan Nyepi dan umat Islam yang menyambut Idulfitri.
Ia berharap seluruh masyarakat senantiasa diberi kedamaian, kesehatan, dan keberkahan.
“Selamat Hari Raya Nyepi 19 Maret 2026 dan Selamat Idulfitri 21 Maret 2026.
Semoga keheningan membawa kebijaksanaan, dan kemenangan membawa kesucian hati.
Dari Medan untuk Indonesia, mari kita rawat toleransi dan perkuat kebersamaan,” tutupnya.
(Nurlince Hutabarat)




