Medan, LINI NEWS – Penangkapan seorang Kepala Lingkungan (Kepling) di Kelurahan Pulo Brayan Kota, Kecamatan Medan Barat, terkait dugaan kasus narkotika jenis sabu memantik reaksi keras dari anggota DPRD Kota Medan, Antonius Devolis Tumanggor S.Sos. Peristiwa ini dinilai sebagai tamparan memalukan bagi tata kelola pemerintahan di tingkat kelurahan dan kecamatan.
Kasus tersebut semakin menyita perhatian publik setelah Ketua DPRD Kota Medan, Drs. Wong Chun Sen Tarigan, M.Pd.B, melontarkan kritik tajam terhadap kinerja Camat dan Lurah Medan Barat yang dinilai lalai melakukan pengawasan terhadap aparat di wilayahnya.
Menurut Antonius Devolis Tumanggor, tertangkapnya seorang kepling dalam pusaran narkoba bukan sekadar persoalan hukum individu, tetapi mencerminkan lemahnya kontrol struktural dalam pemerintahan tingkat bawah.
“Ketika penjaga kampung justru menjadi bagian dari masalah, maka yang runtuh bukan hanya jabatan, tetapi kepercayaan rakyat,” ujar Antonius dengan nada keras.
Ia menegaskan bahwa aparat lingkungan seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan masyarakat. Kepling, kata dia, adalah mata dan telinga pemerintah di tengah masyarakat.
Jika posisi tersebut justru tercemar oleh narkoba, maka dampaknya sangat luas terhadap citra pemerintah.
Sementara itu, Wong Chun Sen Tarigan mengaku sangat geram karena lokasi penangkapan kepling tersebut tidak jauh dari kediamannya. Bahkan kantor lurah disebut berada tepat di depan rumahnya.
“Ini bukan sekadar kelalaian administratif, ini kegagalan moral dalam menjaga marwah pemerintahan,” tegas Wong.
Ia menilai Camat dan Lurah Medan Barat seharusnya mampu memastikan aparat lingkungan bekerja dengan integritas dan bebas dari pengaruh narkotika.
“Jangan sampai pemerintah menjadi penonton di wilayahnya sendiri, sementara narkoba diam-diam membangun kerajaan di tengah masyarakat,” sambungnya.
Wong mendesak agar oknum kepling yang terlibat segera dicopot dari jabatannya dan dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh aparat lingkungan di Kecamatan Medan Barat, termasuk tes urine secara berkala.
“Jika aparatnya bersih,
masyarakat akan percaya. Tetapi jika aparatnya kotor, hukum akan kehilangan wibawanya,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa sulitnya memutus mata rantai peredaran narkoba kerap disebabkan adanya dugaan keterlibatan oknum aparat di tingkat bawah.
“Narkoba tidak akan tumbuh subur tanpa tanah yang membiarkannya. Ketika aparat lengah, kejahatan akan menemukan rumahnya,” ucap Wong.
Selain persoalan narkoba, Wong Chun Sen turut menyinggung masalah kebersihan di Kelurahan Pulo Brayan Kota yang dinilai tidak tertangani secara serius.
Ia mengaku setiap pagi harus mencium aroma menyengat dari tong sampah yang berada tepat di depan rumahnya.
Pengangkutan sampah yang baru dilakukan setelah pukul 09.00 WIB dinilai sangat mengganggu warga sekitar.
Kondisi Lapangan Pertiwi yang dipenuhi sampah dan tampak kumuh juga menjadi sorotan.
“Kota yang bersih lahir dari pemimpin yang peduli.
Jika sampah saja tak mampu ditangani, bagaimana mungkin kejahatan besar bisa diberantas?” sindirnya tajam.
Wong pun meminta Wali Kota Medan untuk mengambil langkah tegas dengan memerintahkan seluruh jajaran kecamatan dan kelurahan memperketat pengawasan terhadap aparat lingkungan.
“Jabatan adalah amanah, bukan tameng untuk menyembunyikan dosa. Jika ada yang bermain dengan narkoba, jangan ragu menyingkirkannya dari pemerintahan,” pungkasnya.
Ia menegaskan bahwa pemberantasan narkoba dan maraknya aksi kriminal seperti begal harus menjadi agenda serius pemerintah kota.
“Negara bisa runtuh bukan karena musuh dari luar, tetapi karena pengkhianatan dari dalam,” tutupnya. (Nurlince Hutabarat)




