Medan, LINI NEWS – Sesungguhnya Tuhan Yesus sungguh baik. Kita, satu angkatan alumni SD HKBP Glugur, masih diberi anugerah umur panjang, kesehatan, dan kesempatan menapaki usia menuju tujuh puluh tahun hingga seratus tahun bila Tuhan berkenan
Pada usia senja ini, kami belajar mengatur ujung segala aktivitas: menjaga makanan, tutur bahasa, pergaulan, hingga harta dan uang. Namun, dari seluruh perjalanan hidup itu, satu fase yang paling membekas dan tak tergantikan adalah masa sekolah dasar—masa yang lahir dari kesederhanaan, namun kaya nilai dan iman.
Ingatan itu kembali pada tahun 1965, saat kami tinggal di lingkungan Gereja HKBP Glugur Darat.
Bangunan gereja kala itu sangat sederhana: dinding tepas, atap rumbia, berukuran sekitar 6 x 10 meter.
Namun dari kesederhanaan itulah niat luhur ditanamkan dan sejarah iman ditorehkan.
Aku masih mengingat dengan jelas satu sisi dinding gereja yang menjadi saksi pengabdian Alm.
Ayahku bersama Alm Amang Boruku Hutagalung dan Ir. Bolman Hutagalung (paribanku), serta Inang Ny. Sinaga (Firman Sinaga)—entah kini masih hidup atau telah dipanggil Tuhan.
Ayah dan Amang Boruku bergantian memukul lonceng gereja, lonceng sederhana dari besi pengikat ban mobil, setiap hari—Senin hingga Minggu—tepat Pukul 05.30 WIB.
Dentangnya bukan sekadar bunyi, melainkan panggilan iman bagi kampung dan hati kami.
Seiring berjalannya waktu, gereja berkembang dan berkolaborasi membangun Sekolah Dasar HKBP Glugur. Dari sanalah masa depan dirintis.
Aku masih ingat Amang Siagian, Kepala Sekolah yang kami banggakan—yang akrab disebut
“Pak Kecet”. Sosoknya rajin, serius, cerdas, rendah hati, loyal, dan tegas. Tubuhnya tinggi, kekar, padat, berwibawa—figur pendidik yang menanamkan disiplin tanpa kehilangan kasih.
Di bangku SD itu pula terpatri kenangan indah: sahabat kami yang cantik dan ceria, Alm. Donita Manurung, berkulit putih, berambut panjang tergerai, gempal dan lincah, memimpin barisan Martumba. Kain panjang terikat di pinggang, langkah-langkah kecil berpadu dengan irama dan sukacita.
Kita dididik oleh guru-guru penuh dedikasi: Ibu Sipahutar, Ibu Rospita Hutabarat, Ibu Batubara—berkulit putih, bertubuh tinggi, berperawakan melankolis—serta Pak Siagian, Pak Panggabean, Pak Batubara, yang mengawali pembukaan pesta dan kegiatan sekolah dengan ketulusan.
Masih terngiang lagu Tumba yang kita nyanyikan:
“Ro hamu sude tu son angka damang-dainang,
asa marlas ni roha hita rap dohot hami,
SD HKBP na di Resort Glugur on…”
Reff:
Ro sai to hamu ale Inang,
Ro sai to hamu ale Amang,
manumpak i hami angka geleng muna on,
marpesta pembangunan…
Lalu berlanjut lagu “Tangan do botohon…”, diiringi seruan:
“Surle iledi-iledi, illedi surle…”
dst
Semua itu kini menjelma kenangan terindah—kenangan yang hidup, bukan sekadar lewat.
Zaman terus berkembang. Sekolah pun tumbuh, membuka SMP dengan bangunan sederhana.
Kita melanjutkan pendidikan, tetap dalam sukacita, sebagai satu saudara dan satu iman. Kami belajar hidup dalam kasih, tanpa memandang perbedaan keberadaan.
Meski ada kekurangan dan kelebihan, sesuai talenta masing-masing, kami diajarkan untuk saling mengasihi dan saling menutupi—dalam iman, pengharapan, dan kasih.
Damai negeriku. Damai hatiku.
Dari HKBP Glugur, kami belajar menjadi manusia.
Harapan kita
Iman yang lahir dari atap rumbia justru lebih kuat dari bangunan megah tanpa kasih.
Lonceng gereja sederhana mampu membangunkan jiwa lebih nyaring dari suara zaman.
Sekolah rakyat mengajarkan kami arti merdeka sebelum kami tahu makna kata itu.
Guru yang rendah hati adalah kurikulum terbaik sepanjang hidup.
Martumba bukan sekadar tarian, tetapi doa yang bergerak.
Masa kecil yang sederhana sering kali melahirkan manusia yang tangguh.
Kasih yang diajarkan sejak dini akan menemukan jalannya sendiri di usia senja.
Kenangan yang berakar pada iman tidak pernah lapuk oleh waktu.
Kita dibesarkan bukan oleh kemewahan, melainkan oleh kebersamaan.
Dari gereja kecil itulah kita belajar menjadi besar dalam hati.
(Nurlince Hutabarat S.Pd , Alumni Unimed)




