Medan, LINI NEWS – Suara keadilan kembali bergema dari utara Kota Medan. Anggota DPRD Medan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Zulham Efendi, S.Pd, MI, angkat bicara lantang menyampaikan apresiasi mendalam kepada jajaran Kepolisian Daerah Sumatera Utara, khususnya Polres Pelabuhan Belawan dan Polsek Medan Labuhan, atas keberhasilan mereka membongkar dan menangkap pelaku penculikan anak yang sempat menggegerkan warga Medan Marelan, hanya dalam waktu kurang dari 1×24 jam.
“Ketika seorang anak diculik, maka yang terampas bukan hanya tubuhnya, tapi juga ketenangan seluruh negeri. Dan ketika polisi bergerak cepat, maka yang kembali bukan hanya sang anak—tapi juga harapan rakyat,” ujar Zulham penuh ketegasan, Jumat (1/8/2025).
Zulham menilai kerja sigap aparat kepolisian bukan sekadar keberhasilan prosedural, tetapi sebuah pengingat bahwa negara hadir—di saat yang paling rawan, di tempat yang paling mengkhawatirkan.
“Mereka bukan sekadar menangkap pelaku. Mereka menenangkan luka batin seorang ibu yang nyaris kehilangan darah dagingnya. Ini bukan sekadar penegakan hukum. Ini penyelamatan martabat kemanusiaan,” ucapnya.
Penculikan yang Menggemparkan, Aksi Penyelamatan yang Menggugah
Seperti diketahui, peristiwa penculikan tersebut terjadi pada Selasa pagi, 30 Juli 2025, sekitar pukul 10.25 WIB. Korban, MDAN (8), alias Zaki, didekati dua perempuan tak dikenal saat pulang sekolah di kawasan Pasar 3 Barat, Marelan. Dengan bujuk rayu halus dan tipu daya maut, Zaki dinaikkan ke mobil Toyota Rush putih.
Tak lama kemudian, rumah keluarga korban didatangi surat misterius: pelaku menuntut tebusan Rp50 juta, dan mengancam akan menjual organ tubuh korban jika permintaan tidak dipenuhi. Ancaman itu tidak hanya mencabik hati orang tua, tapi juga mengguncang rasa aman seluruh warga kota.
Namun di balik kepanikan itu, Polri bergerak dengan kecepatan dan presisi. Tiga pelaku diringkus. Julia Hasibuan (40)—yang ternyata masih memiliki hubungan darah dengan ibu korban—ditangkap di rumahnya di Marelan I Pasar IV. Dari interogasi mendalam, muncul dua nama lain: Nurhayati (52) dan Firda Hermayati (40), yang turut terlibat dalam skenario hitam ini.
“Kejahatan yang lahir dari keluarga sendiri adalah luka yang menganga lebih dalam. Tapi hukum tidak boleh ragu ketika harus menebas tali darah demi menyelamatkan nyawa yang tak berdosa,” tegas Zulham.
Zulham: Orang Tua dan Sekolah Harus Bangun Tembok Perlindungan
Zulham juga mengingatkan masyarakat, terutama para orang tua dan pihak sekolah, agar tak lagi bersandar penuh pada aparat keamanan. Menurutnya, keamanan anak adalah tanggung jawab kolektif yang harus dijaga bersama—mulai dari gerbang sekolah hingga halaman rumah.
“Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam bayang-bayang ancaman. Sekolah harus ekstra ketat. Orang tua harus lebih hadir. Dan lingkungan harus jadi pelindung, bukan pelaku,” tuturnya.
Ia menambahkan, pendidikan kewaspadaan terhadap bahaya penculikan harus menjadi bagian dari kurikulum sosial anak—diajarkan bukan untuk menakuti, tapi untuk membekali.
“Anak-anak adalah masa depan yang rapuh. Dan negeri ini hanya akan kuat jika generasi mudanya tumbuh dalam pelukan rasa aman,” tambahnya.
Pesan Tajam untuk Semua Elemen Bangsa
Di akhir pernyataannya, Zulham berharap kejadian ini menjadi cambuk bagi semua pihak: bahwa keamanan anak adalah garis merah yang tak boleh disepelekan.
“Di atas derita seorang ibu yang hampir kehilangan anaknya, hukum harus berdiri setegak-tegaknya. Kita tidak butuh tangisan lagi. Kita butuh sistem yang siaga, masyarakat yang peduli, dan aparat yang terus berjaga.”
Zulham juga menyerukan agar penghargaan moral dan institusional diberikan kepada jajaran Polres Belawan dan Polsek Medan Labuhan. Bagi Zulham, keberhasilan ini bukan sekadar penangkapan, melainkan penyelamatan jiwa yang tak ternilai.(Nurlince Hutabarat)




