Tangis Dairi Pecah, Bupati Vickner Sinaga & Wabup Wahyu Daniel Sagala Berdiri di Tengah Duka Sekda

0
198

Dairi, LINI NEWS – Air mata pecah di Jalan Rimo Bunga, Sitinjo, Kabupaten Dairi, Kamis (11/9/2025). Ribuan langkah berduyun-duyun menuju rumah duka almarhumah Ermawaty Berutu, istri Sekretaris Daerah (Sekda) Dairi, Surung Charles Lamhot Bantjin, yang berpulang setelah dua tahun berjuang melawan kanker.

Di tengah suasana haru itu, Bupati Dairi, Ir. Vickner Sinaga, bersama Wakil Bupati, Wahyu Daniel Sagala, hadir memberikan penghormatan terakhir. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan simbol kehadiran seorang pemimpin yang tahu arti empati.

Vickner Sinaga: Doa dan Penguatan

Dengan suara bergetar, Bupati Dairi menyampaikan rasa dukanya.
“Atas nama pribadi, keluarga, dan seluruh jajaran Pemkab Dairi, kami menyampaikan turut berduka cita sedalam-dalamnya. Semoga Tuhan memberikan ketabahan dan kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan,” ujar Vickner, disambut isak tangis keluarga.

Wahyu Daniel Sagala: Solidaritas Tak Pernah Pudar

Wabup Wahyu Daniel menegaskan bahwa duka ini adalah duka bersama.
“Kami datang bukan hanya untuk melayat, tetapi untuk memastikan bahwa keluarga besar Pemkab Dairi selalu berdiri bersama, dalam suka maupun duka,” tegasnya.

Kehadiran ASN & Haru Keluarga Besar

Rumah duka dipenuhi ASN, sahabat, kerabat, dan masyarakat. Tangis pecah ketika Maringan Bantjin, abang kandung Sekda, mengingatkan tentang perjuangan panjang sang adik menanti kesembuhan sang istri.
“Kami keluarga besar memohon doa agar kami tabah menghadapi cobaan ini. Semoga arwah almarhumah diterima di sisi Tuhan,” ucapnya lirih.

Almarhumah Ermawaty Berutu (51) dikenal sebagai sosok sederhana dan berdedikasi. Ia pernah menjabat sebagai Kabid Peternakan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Dairi, sekaligus dipercaya sebagai Ketua TP PKK Dairi pada 2024 ketika sang suami menjabat Pj Bupati. Ia meninggalkan suami dan empat anak yang masih membutuhkan kasih seorang ibu.

Duka Dairi

“Pemimpin yang sejati tidak hanya hadir di podium, tetapi juga di pelataran rumah duka.”

“Dairi bersatu bukan hanya saat pesta panen, tetapi juga saat air mata tumpah di tanah ini.”

“Setiap kepergian adalah luka, tetapi doa dan solidaritas menjahitnya kembali.”

“Empati adalah bahasa yang lebih lantang dari sekadar kata-kata.”

Malam itu, rumah duka berubah menjadi saksi betapa Dairi memiliki pemimpin yang tidak sekadar memerintah, melainkan merangkul. Tangis keluarga bercampur doa ribuan bibir, mengiringi kepergian almarhumah Ermawaty Berutu—seorang ibu, seorang istri, seorang pejuang.
(Nurlince Hutabarat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini