Medan, LINI NEWS – Peringatan Jumat Agung tidak hanya menjadi momen spiritual bagi umat Kristiani, tetapi juga ruang refleksi kebangsaan.
Hal ini disampaikan Pembina Lini News.Com Mayjen Purn
Felix Hutabarat, SIP MSi MBA Han yang dikenal vokal dalam isu moralitas publik dan kebangsaan.
Dalam pandangannya, pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib harus dimaknai lebih dari sekadar peristiwa iman.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Jumat Agung—pengorbanan, kejujuran, keberanian, dan pengampunan—merupakan fondasi penting dalam membangun bangsa yang berkeadilan.
“Dari Salib Menuju Harapan: Jumat Agung Menggema, Kasih Yesus Kristus Menyentuh Hati Umat.
Peringatan Jumat Agung Tahun ini berlangsung penuh khidmat dan reflektif. Umat Kristiani di berbagai gereja larut dalam suasana hening, mengenang pengorbanan agung Yesus Kristus yang disalibkan demi penebusan dosa umat manusia.
Di tengah dunia yang terus diguncang konflik, ketidakadilan, dan luka kemanusiaan, makna Jumat Agung terasa semakin relevan.
Salib yang dahulu menjadi simbol penderitaan, kini menjelma sebagai tanda kasih yang tak tergoyahkan—kasih yang rela berkorban tanpa syarat.
Sejumlah tokoh gereja menegaskan bahwa Jumat Agung bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum spiritual untuk merenungkan kembali nilai pengampunan, pengorbanan, dan keadilan.
“Ketika Yesus Kristus disalibkan, Ia tidak membalas kebencian dengan amarah, tetapi dengan pengampunan. Inilah pesan terbesar bagi umat manusia hari ini,” ujar salah satu pendeta dalam khotbahnya.
Refleksi ini semakin diperdalam melalui rangkaian liturgi yang sarat simbol:
Pembacaan kisah sengsara, doa-doa syafaat, serta suasana gereja yang minim ornamen sebagai tanda duka. Namun di balik duka itu, tersimpan harapan yang tak padam.
Seorang jemaat yang hadir mengungkapkan bahwa Jumat Agung menjadi momen untuk menguatkan iman di tengah pergumulan hidup.
“Kami belajar bahwa penderitaan bukanlah akhir. Seperti Yesus Kristus, selalu ada kebangkitan setelah salib,” tuturnya dengan mata berkaca.
Dalam konteks kehidupan sosial, pesan Jumat Agung juga menjadi seruan moral bagi semua pihak untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan.
Pengorbanan Kristus menjadi cermin bahwa kebenaran sering kali harus diperjuangkan dengan keberanian dan ketulusan, meski harus menghadapi penderitaan.
Peringatan ini pun tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga panggilan untuk bertindak—mengasihi sesama, memperjuangkan yang lemah, dan menjaga nurani tetap hidup di tengah derasnya arus zaman.
Jumat Agung akhirnya bukan hanya kisah tentang kematian di kayu salib, melainkan tentang kasih yang menghidupkan.
Dari Golgota, dunia diajak untuk percaya: bahwa di balik setiap luka, selalu ada harapan yang menunggu untuk bangkit.
“Jumat Agung adalah cermin moral. Ketika Yesus Kristus memilih menderita demi kebenaran, di situlah kita diajarkan bahwa integritas tidak boleh dikompromikan, bahkan dalam tekanan sekalipun,” ujar Felix dalam keterangannya, Jumat, 3 April 2026
Sang jenderal Purnawirawan juga menyoroti kondisi sosial saat ini yang dinilainya masih diwarnai ketimpangan dan krisis kepercayaan publik.
Menurutnya, semangat pengorbanan Kristus seharusnya menjadi inspirasi bagi para pemimpin dan aparat negara untuk mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau golongan.
“Bangsa ini membutuhkan keberanian moral. Jangan sampai kekuasaan justru menjadi alat penindasan. Kita harus belajar dari Yesus Kristus, yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan kasih dan kebenaran,” tegasnya.
Lebih lanjut, Felix mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Jumat Agung sebagai momentum memperbaiki diri, baik secara pribadi maupun kolektif. Ia menilai bahwa krisis yang dihadapi bangsa bukan hanya persoalan ekonomi atau politik, tetapi juga krisis nilai.
“Jika kita ingin Indonesia kuat, maka kita harus kembali pada nilai-nilai luhur: kejujuran, pengorbanan, dan keadilan.
Jumat Agung mengingatkan kita bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk berkorban,” tambahnya.
Pernyataan Felix Hutabarat ini menjadi pengingat bahwa makna Jumat Agung melampaui batas-batas gereja.
Ia hidup dalam tindakan nyata—dalam keberpihakan kepada yang lemah, dalam keberanian menegakkan kebenaran, dan dalam kesediaan untuk berkorban demi masa depan bangsa.
Di tengah tantangan zaman, suara moral seperti ini menjadi penting—bahwa dari salib, lahir bukan hanya iman, tetapi juga harapan dan arah bagi perjalanan sebuah bangsa.
“Di kayu salib, Yesus Kristus tidak hanya menanggung luka, tetapi juga menebus dunia dengan cinta yang tak bersyarat.”
“Jumat Agung mengajarkan: penderitaan bukan akhir, melainkan jalan sunyi menuju kemenangan kasih.”
“Darah yang tertumpah di Golgota bukan tanda kekalahan, tetapi mahkota pengorbanan terbesar sepanjang sejarah.”
“Ketika dunia menyalibkan, Yesus Kristus justru mengampuni—di situlah kasih mencapai puncaknya.”
“Salib adalah bahasa sunyi Tuhan: bahwa cinta sejati rela terluka demi menyelamatkan.”
“Dalam keheningan Jumat Agung, kita mendengar suara kasih yang berkata: Aku mati agar engkau hidup.”
“Pengorbanan Yesus Kristus mengingatkan kita—bahwa harapan selalu lahir bahkan dari luka terdalam.”
Salam Jumat Agung, GBU
(Salomo Simorangkir)




