Medan, LINI NEWS – Dengan bernada elevatif dan inspiratif, ada 53 Pejabat Fungsional di Lingkungan Pemerintah Kota Medan resmi diambil sumpah/janji dan dilantik oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, di Ruang Rapat III Balai Kota Medan, Rabu (22/10/2025).
Pelantikan tersebut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap, Sekda Kota Medan Wiriya Alrahman, para Asisten, Kepala BKDPSDM, dan seluruh Pimpinan Perangkat Daerah di jajaran Pemko Medan.
Prosesi Penuh Makna: Sumpah, Fakta Integritas, dan Amanah Baru
Acara dimulai dengan pembacaan Surat Keputusan Wali Kota Medan, dilanjutkan dengan pembacaan Fakta Integritas oleh perwakilan pejabat yang dilantik.
Kemudian dilakukan pengambilan sumpah/janji jabatan, penandatanganan berita acara, dan diakhiri dengan penyerahan SK secara simbolis oleh Wali Kota Medan.
Rico Waas menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar seremoni, tetapi tanggung jawab besar dan amanah moral untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Pelantikan ini adalah awal tanggung jawab baru, bukan sekadar upacara. Gunakan hati dalam bekerja, karena hati adalah kompas moral dalam setiap pengabdian,” — Rico Waas.
Gunakan Hati, Hindari Ego Sektoral
Dalam sambutannya, Rico menekankan pentingnya menggunakan hati dalam bekerja, bukan hanya sekadar menjalankan tugas administratif.
“Apapun jabatannya, dari yang tertinggi hingga yang paling awal, semuanya harus dijalankan dengan hati,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dengan bekerja menggunakan hati, ASN akan terhindar dari ego sektoral, sifat merasa paling benar sendiri, dan kecenderungan untuk mementingkan diri atau kelompok.
“Kalau kita bekerja dengan hati, kita akan lebih mudah memahami rakyat dan menjauh dari ego. Karena yang kita layani bukan diri sendiri, tapi masyarakat,” tegasnya.
Pesan Moral: Jaga Marwah Pemko Medan
Rico Waas mengingatkan seluruh ASN agar menjaga harga diri dan marwah Pemerintah Kota Medan.
Ia menyoroti fenomena penurunan moralitas ASN, seperti keterlibatan dalam narkoba, judi, perselingkuhan, mabuk-mabukan, penyalahgunaan wewenang, dan pungli.
“Jabatan bukan tempat mencari keuntungan pribadi. Jauhkan diri dari pungli, karena itu racun birokrasi,” tegasnya.
“Integritas itu bukan apa yang kita katakan, tetapi apa yang kita lakukan saat tidak ada yang melihat.”
Kinerja, Meritokrasi, dan Pengabdian
Rico menegaskan bahwa kenaikan jabatan di Pemko Medan didasarkan pada meritokrasi dan kinerja.
Ia menolak pandangan bahwa jabatan semata-mata karena kedekatan.
“Kami tidak buta. Kami melihat siapa yang bekerja sungguh-sungguh. Pengabdian itu bukan soal posisi, tapi soal dedikasi,” katanya.
Bagi Rico, pengabdian adalah wujud wakaf diri untuk masyarakat — sebuah perjuangan yang harus dijaga dengan niat tulus dan kerja nyata.
“Bagi kami semua jabatan itu sama, tapi yang membedakan adalah sejauh mana kita mengabdikan diri untuk rakyat,” pungkasnya.
Komposisi Pejabat Fungsional yang Dilantik
Sebanyak 53 pejabat dilantik, yang terdiri dari:
3 orang Pejabat Fungsional Ahli Madya
7 orang Pejabat Fungsional Ahli Muda
43 orang Pejabat Fungsional Ahli Pertama
Mereka berasal dari berbagai perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota Medan.
🌿 Amanah Wali Kota Medan, Rico Waas
Sebagai penegas nilai moral dan etos kerja, berikut pesan , yang mencerminkan pesan Wali Kota Medan dalam pelantikan ini:
“Gunakan hati dalam bekerja, karena hati adalah kompas moral setiap ASN.”
“Pelantikan bukan sekadar seremoni, tapi momentum lahirnya tanggung jawab baru.”
“Integritas adalah apa yang kita lakukan saat tidak ada yang melihat.”
“Ego sektoral adalah dinding pemisah pelayanan publik — runtuhkan dengan empati.”
“Harga diri ASN terletak pada kejujurannya, bukan pada pangkatnya.”
“Bekerjalah bukan untuk dilihat atasan, tapi untuk dirasakan manfaatnya oleh rakyat.”
“Pengabdian sejati adalah wakaf diri untuk masyarakat.”
“Jauhkan diri dari pungli, karena itu racun birokrasi yang mematikan kepercayaan publik.”
“Profesionalisme adalah bukti cinta pada pekerjaan, integritas adalah bukti cinta pada Tuhan.”
“Setiap tanda tangan ASN adalah doa bagi rakyat — jangan nodai dengan kepentingan pribadi.”
(Nurlince Hutabarat)




