Medan, LINI NEWS – Gelombang protes warga kembali menggema dari Kelurahan Martubung.
Puluhan masyarakat secara tegas mendesak agar Kepala Lingkungan (Kepling) VIII dan IX segera diganti, menyusul kekecewaan mendalam atas kinerja yang dinilai tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.
Sorotan ini pun sampai ke meja legislatif.
Ketua Komisi I DPRD Medan, Reza Pahlevi Lubis, angkat bicara dengan nada tegas. Ia meminta Camat Medan Labuhan agar tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah konkret atas polemik yang terjadi di tengah masyarakat.
Menurut Reza, aspirasi warga bukan sekadar keluhan biasa, melainkan sinyal serius adanya ketidakpuasan terhadap pelayanan publik di tingkat lingkungan.
“Ini bukan lagi suara kecil. Ini jeritan kolektif warga yang merasa diabaikan. Camat harus segera mengevaluasi dan bertindak tegas,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Aspirasi Warga Memuncak
Puluhan warga yang tergabung dalam aksi tersebut mengaku sudah lama merasakan ketidakadilan dalam pelayanan administrasi, kurangnya transparansi, serta minimnya kehadiran Kepling dalam menyelesaikan persoalan sosial di lingkungan mereka.
Beberapa warga bahkan menyebut bahwa Kepling VIII dan IX terkesan tidak responsif terhadap berbagai aduan, mulai dari persoalan bantuan sosial hingga konflik warga.
“Kami butuh pemimpin lingkungan yang hadir, bukan yang hanya muncul saat ada kepentingan,” ungkap salah satu warga dengan nada geram.
DPRD Medan Tekankan Evaluasi Menyeluruh
Reza menegaskan bahwa jabatan Kepling bukan sekadar posisi administratif, melainkan ujung tombak pelayanan pemerintah kepada masyarakat.
Ia meminta Camat Medan Labuhan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Kepling VIII dan IX, termasuk menampung aspirasi warga sebagai bahan pertimbangan utama.
“Kalau memang terbukti tidak mampu menjalankan tugas dengan baik, maka pergantian adalah langkah yang wajar.
Jangan biarkan ketidakpercayaan publik terus membesar,” tegasnya.
Camat Diminta Jangan Lamban
Komisi I DPRD Medan juga mengingatkan agar pihak kecamatan tidak lamban dalam merespons situasi ini.
Keterlambatan justru berpotensi memperkeruh kondisi sosial di tengah masyarakat.
Reza menilai, kepemimpinan di tingkat lingkungan harus mencerminkan keadilan, kehadiran, dan tanggung jawab sosial yang tinggi.
Suara Rakyat dan Wakil Rakyat:
“Ketika pemimpin lingkungan kehilangan kepekaan, di situlah kepercayaan rakyat mulai runtuh.”
“Jabatan bukan sekadar posisi, melainkan amanah yang harus dijaga dengan hati.”
“Rakyat tidak menuntut sempurna, mereka hanya ingin didengar dan dilayani.”
“Diamnya pemimpin adalah bisingnya penderitaan masyarakat.”
“Evaluasi bukan ancaman, tetapi jalan menuju keadilan.”
“Jika kepercayaan hilang, maka kekuasaan tinggal bayangan.”
“Pemimpin sejati hadir sebelum dipanggil, bukan setelah diprotes.”
Kasus di Martubung menjadi cermin bahwa suara rakyat tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
DPRD Medan melalui Komisi I kini menunggu langkah nyata dari pihak kecamatan.
Apakah akan ada perubahan, atau justru konflik ini akan semakin membesar—jawabannya ada pada keberanian mengambil tindakan.
(Nurlince Hutabarat)




