Pesan Hangat Kapolda Sumut di Tengah Aksi Mahasiswa: Dari Luka Menuju Dialog

0
94

Medan, LINI NEWS – Suasana tegang di depan Mapolda Sumatera Utara, Jalan Sisingamangaraja Medan, sore tadi, berubah menjadi ruang dialog penuh makna. Puluhan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang menggelar aksi damai untuk mengenang Affan Kurniawan driver ojek online yang tewas dalam insiden tragis akhirnya duduk bersama Kapolda Sumut, Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, tepat di pintu gerbang markas besar kepolisian tersebut.

Aksi yang dimulai Pukul 14.30 WIB ini diikuti sekitar seratus mahasiswa dengan almamater kampus mereka. Poster dan spanduk memenuhi udara: “Solidaritas untuk Affan Kurniawan”, “Polisi Pengayom atau Pembunuh”, hingga “Copot Kapolda Sumut”. Massa juga menggelar aksi tabur bunga sebagai simbol duka sekaligus solidaritas.

Namun, titik balik terjadi ketika Kapolda keluar bersama Irwasda Polda Sumut Kombes Pol Masbudi, lalu memilih duduk bersama mahasiswa di atas aspal. Sikap sederhana itu menjadi jembatan kehangatan di tengah ketegangan.

Dalam pesannya, Kapolda Sumut menekankan tiga hal penting:

  1. Komitmen Keterbukaan – “Saya menerima dengan hangat setiap masukan, keluh kesah, dan kritik mahasiswa. Polisi harus mendengar, bukan hanya berbicara.”
  2. Tindakan Tegas ke Dalam – “Saya tidak ragu menindak anggota yang terbukti bersalah. Polisi harus berani bercermin, meski cermin itu retak.”
  3. Permintaan Maaf Tulus – “Jika ada mahasiswa, masyarakat, atau bahkan wartawan yang dirugikan akibat tindakan anggota, saya mohon maaf dengan tulus.”

Kata-kata itu disambut dengan tepuk tangan sebagian mahasiswa. Aksi yang semula penuh kecaman berubah menjadi dialog yang mencairkan suasana.

Kapolda Sumut Berpesan: “Keberanian polisi bukan hanya menindak, tapi juga mengakui salah”,“Kritik mahasiswa adalah vitamin bagi reformasi Polri.” dan “Duduk bersama lebih mulia daripada berdiri berhadap-hadapan.”

Suasana di Lapangan

Meski spanduk protes masih terbentang, langkah Kapolda Sumut meninggalkan kesan berbeda. Polisi dan mahasiswa terlihat berbincang di jalanan, di bawah terik sore yang mulai meredup. Tabur bunga yang semula menjadi simbol duka, berubah makna menjadi simbol pertemuan hati.

“Ini bentuk solidaritas kami kepada Affan Kurniawan dan juga teman-teman yang mendapat tindakan represif. Tapi kami juga menghargai sikap Kapolda yang mau duduk bersama kami,” ujar salah satu orator mahasiswa.

Hari ini, 1 September 2025, menjadi pengingat bahwa benturan bisa melembut ketika ada ruang untuk saling mendengar. Dari jalanan depan Mapolda, lahir harapan baru agar polisi dan mahasiswa tidak lagi berseberangan, tetapi berjalan seiring demi Sumut yang lebih adil dan manusiawi. (Nurlince Hutabarat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini