Naposo PGM Siopat Pisoran Gelar Diskusi Akbar: Rawat Marwah Marga, Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau

0
5

Medan, LINI NEWS – Punguan Naposo Punguan Guru Mangaloksa (PGM) Siopat Pisoran se-Kota Medan akan menggelar Diskusi Akbar bersama orang tua dan penasehat marga, Jumat (2/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi generasi muda PGM untuk memperkuat persatuan, memahami nilai-nilai adat, sekaligus meneguhkan jati diri marga Guru Mangaloksa di tengah dinamika kehidupan masyarakat modern.
Diskusi yang mengangkat tema

“Memperkuat Solidaritas dan Menjaga Marwah Marga Guru Mangaloksa di Tanah Rantau”

Hal itu dijadwalkan berlangsung mulai pukul 18.00 WIB hingga selesai.
Dua tokoh orang tua marga, E. Hutabarat dan E. Lumbantobing, dijadwalkan hadir sebagai narasumber utama untuk memberikan arahan, nasihat, serta motivasi kepada generasi muda PGM Siopat Pisoran.

Bukan Sekadar Pertemuan, tetapi
Konsolidasi Naposo
Ketua Naposo PGM Siopat Pisoran

Rudolf Hutabarat, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar pertemuan biasa atau kegiatan seremonial.

Menurutnya, diskusi akbar itu merupakan bagian dari konsolidasi untuk membangun generasi muda PGM yang semakin beradat, solid, berpendidikan, produktif, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

“Kami butuh arahan langsung dari orang tua. Naposo tidak boleh berjalan sendiri tanpa restu dan bimbingan dari orang tua,” tegas Rudolf.

Menurutnya, kehidupan di tanah rantau membutuhkan kebersamaan.

Karena itu, generasi muda harus mampu menjaga hubungan kekeluargaan dan tidak kehilangan akar budaya meskipun menghadapi perubahan zaman.

Inspirasi Rudolf memuturkan:

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Semangat tersebut sejalan dengan nilai marsada, marsiamin-aminan, dan marsitungkol-tungkollan—bersatu, saling menguatkan, dan saling menopang.

E. Hutabarat: Jangan Lupakan Tarombo dan Dalihan Na Tolu

Dalam arahannya, E. Hutabarat dijadwalkan menekankan pentingnya generasi muda memahami dan menjaga identitas marga.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan pendidikan dan teknologi harus berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap adat istiadat dan nilai kekeluargaan.

“Saya berpesan kepada seluruh Naposo PGM dimanapun berada, jangan pernah lupakan tarombo dan Dalihan Na Tolu.

Pintar saja tidak cukup, kalau tidak beradat.

Marsada, kompak, saling menopang.

Kalau ada satu yang susah, semua harus turun tangan,” ujar E Hutabarat.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tarombo bukan sekadar silsilah, tetapi bagian penting dari identitas dan hubungan kekerabatan.

Sementara Dalihan Na Tolu menjadi landasan hubungan sosial dalam masyarakat Batak melalui prinsip somba marhula-hula, elek marboru, dan manat mardongan tubu.

Dengan demikian, modernitas tidak seharusnya membuat generasi muda meninggalkan akar budaya.

Justru, kemajuan zaman perlu diimbangi dengan karakter dan adat yang kuat.

E. Lumbantobing: Naposo Harus Unggul dalam Pendidikan dan Ekonomi

Sementara itu, E. Lumbantobing akan memberikan motivasi agar generasi muda PGM tidak hanya aktif dalam kegiatan adat, tetapi juga mampu menunjukkan prestasi dalam bidang pendidikan, pekerjaan, kewirausahaan, dan kehidupan sosial.

“Naposo PGM harus jadi contoh. Di kampus harus berprestasi, di pekerjaan harus jujur, di marga harus aktif.

Jangan mau kalah saing.

Buktikan kalau Marga Guru Mangaloksa itu marga yang marbisuk dan bermartabat. Jauhi narkoba dan pergaulan bebas yang merusak nama marga,” tegas E. Lumbantobing.

Pesan tersebut menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam menjaga nama baik keluarga dan marga.
Marbisuk, dalam konteks ini, bukan hanya berarti cerdas secara intelektual, tetapi juga mampu menggunakan kecerdasan dengan benar, memiliki integritas, serta mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Solidaritas Harus Dibuktikan dengan Kepedulian
Diskusi akbar tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembicaraan, tetapi menghasilkan semangat kebersamaan yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kepedulian kepada sesama anggota punguan, perhatian terhadap pendidikan generasi muda, dukungan kepada anggota yang mengalami kesulitan, serta keterlibatan dalam kegiatan sosial dan adat merupakan bagian dari semangat solidaritas.

Sebab, nama baik marga tidak hanya dibangun melalui kata-kata, tetapi melalui perilaku dan keteladanan setiap anak marga.

Dalam kehidupan perantauan, kekompakan menjadi kekuatan.

Ketika satu anggota mengalami kesulitan, anggota lainnya diharapkan tidak menutup mata.

“Sisada roha, sada tahi; sai marsitungkol-tungkolan.”

Satu hati, satu tujuan; hendaknya saling menopang.

Naposo Diminta Hadir Tepat Waktu
Pengurus Naposo PGM Siopat Pisoran se-Kota Medan mengimbau seluruh anggota untuk menghadiri kegiatan tersebut tepat waktu.

Pertemuan ini diharapkan menjadi ruang untuk mendengar nasihat orang tua, mempererat hubungan antargenerasi, memperkuat persaudaraan, sekaligus menyusun semangat baru bagi kemajuan punguan.

Generasi muda PGM diharapkan mampu menjadi generasi yang beradat tanpa tertinggal zaman, berpendidikan tanpa kehilangan akar budaya, serta maju secara ekonomi tanpa mengabaikan nilai kekeluargaan.

Pada akhirnya, marwah marga bukanlah sesuatu yang diwariskan untuk sekadar disebut, melainkan amanah yang harus dijaga melalui sikap, prestasi, persaudaraan, dan keteladanan.

“Marga adalah identitas, adat adalah akar, dan persaudaraan adalah kekuatan.”

“Pintar tanpa adat kehilangan arah; beradat tanpa kemajuan kehilangan langkah.”

“Naposo yang kuat bukan yang berjalan sendiri, tetapi yang mampu berjalan bersama.”

“Marwah marga dijaga bukan dengan kebanggaan di bibir, melainkan dengan keteladanan dalam perbuatan.”

“Tanah rantau boleh jauh dari bona pasogit, tetapi hati jangan pernah jauh dari tarombo dan Dalihan Na Tolu.”

“Satu orang berhasil menjadi kebanggaan keluarga; satu punguan yang solid menjadi kekuatan bersama.”

“Jaga nama baik marga hari ini, karena generasi berikutnya akan menerima warisan nama yang kita tinggalkan.”

Umpasa Batak

“Sai tubu ma anak di dolok ni Pusuk Buhit,
Sai tubu ma boru di dolok ni Sibayak;

Sai marsada ma hita di bagasan punguan,
Sai horas ma hita saluhutna gabe jaya di tano parserahan.”
Makna:

Semoga lahir generasi yang kuat dan berkarakter, tetap bersatu dalam punguan, saling menopang dalam kehidupan, serta memperoleh keberhasilan di tanah perantauan.

Marsada hita, marsiamin-aminan, marsitungkol-tungkollan.
Bersatu dalam kasih, saling menguatkan, dan saling menopang.
HORAS!
HORAS!
HORAS!
(Salomo Simorangkir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini