Medan, LINI NEWS – Di tengah derasnya gelombang demonstrasi yang bergulir di berbagai daerah, Majelis Sholawat Ahlul Kirom tampil sebagai penyejuk dengan lantang menyerukan pentingnya persatuan bangsa. Dengan napas keislaman yang teduh dan pijakan kebangsaan yang kokoh, majelis ini menegaskan: Indonesia tidak boleh terkoyak oleh perbedaan pandangan, karena persaudaraan adalah benteng terakhir bangsa ini.
Dalam pernyataan resminya, Majelis Sholawat Ahlul Kirom menegaskan sembilan butir sikap yang sarat dengan pesan keagamaan sekaligus kebangsaan. Di antaranya, menegaskan NKRI harga mati, menyeru seluruh anak bangsa untuk menjaga ukhuwah, serta mendorong pemerintah membuka ruang dialog yang bijak, sehat, dan penuh tanggung jawab demi meredam gejolak sosial.
Bangsa yang menjaga persaudaraan akan berdiri kokoh; bangsa yang membiarkan perpecahan akan roboh tanpa perang.”
“Indonesia adalah rumah besar: perbedaan adalah pilar, persatuan adalah atap, dan doa rakyatnya adalah pondasi yang tak tergoyahkan.”
“Perbedaan adalah rahmat, bukan alasan untuk bermusuhan. Persaudaraan adalah tali yang tidak boleh diputus oleh ambisi sesaat,” tegas salah satu seruan majelis tersebut.
Seruan Damai dan Tanggung Jawab Bersama
Meski di tengah panasnya situasi politik dan maraknya aksi demonstrasi di berbagai daerah tanah air, suara lantang Majelis Sholawat Ahlul Kirom menggema sebagai penyejuk sekaligus peringatan keras. Majelis ini menegaskan, Indonesia tidak boleh terkoyak oleh ambisi segelintir pihak yang ingin mengadu domba anak bangsa.
Dalam pernyataan resminya, mereka mengumandangkan sembilan sikap kebangsaan. Intinya: NKRI adalah harga mati, ukhuwah wajib dijaga, dan pemerintah harus membuka ruang dialog yang sehat, arif, serta penuh tanggung jawab.
“Perbedaan bukan alasan untuk bertikai, tetapi ladang pahala untuk memperkuat persaudaraan,” tegas seruan yang dibacakan di hadapan jamaah.

Tegas pada Aksi Massa dan Aparat
Majelis Sholawat Ahlul Kirom juga menyampaikan pesan tajam kepada dua pihak khususnya
Kepada pengunjuk rasa: suarakan aspirasi secara damai, jangan sampai terprovokasi untuk melakukan kekerasan atau merugikan rakyat kecil.
Kepada aparat keamanan: kedepankan sikap humanis, profesional, dan jadikan perlindungan rakyat sebagai prioritas utama.
“Bangsa ini bukan milik segelintir orang, tapi milik seluruh rakyat Indonesia yang ingin hidup damai,” imbuhnya.
Sholawat Jadi Perisai Batin Indonesia
Tak hanya menyeru, majelis ini juga menggerakkan kekuatan spiritual. Seluruh jamaah diajak membaca Shalawat Munjiyat, Shalawat ‘Ashimah, dan Shalawat Badar mulai ba’da Maghrib hingga 3 September. Bacaan sholawat ini diyakini sebagai doa penyelamat bangsa dari marabahaya dan perpecahan.
“Persatuan adalah benteng terakhir bangsa; siapa yang merobeknya, sejatinya sedang menggali kubur peradaban.”
“Indonesia bukan sekadar nama negara, melainkan janji suci: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, yang disatukan doa rakyatnya.”
“Semoga Allah SWT melindungi negeri ini, mengaruniakan kedamaian, dan menurunkan keberkahan,” doa mereka dengan penuh harap.
(Nurlince Hutabarat)




