Jakarta, LINI NEWS – Di hadapan Komisi XI DPR RI, ruang uji kelayakan dan kepatutan Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia berubah menjadi panggung gagasan besar tentang masa depan ekonomi bangsa.
Dicky Kartikoyono Bentangkan Tiga Misi BI Menuju Indonesia 8 Persen
Dicky Kartikoyono tidak sekadar memaparkan visi teknokratis, tetapi menggelar peta jalan tentang kedaulatan ekonomi digital Indonesia, Senin (26/1/2026).
Dengan tema besar penguatan kebijakan sistem pembayaran sebagai lokomotif pertumbuhan nasional, Dicky menegaskan bahwa masa depan ekonomi tidak lagi bertumpu pada komoditas semata, melainkan pada arus data, kecepatan transaksi, dan ketahanan ekosistem digital.
“Stabilitas adalah fondasi, tetapi sistem pembayaran adalah mesin penggerak pertumbuhan,” ujar Dicky, menegaskan posisi strategis Bank Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara kebijakan moneter, makroprudensial, dan akselerasi ekonomi digital.
Tiga Misi untuk Menjemput Masa Depan
Dalam paparannya, Dicky membentangkan tiga misi utama yang disebutnya sebagai poros kebijakan Bank Indonesia ke depan.
- Memperkuat Infrastruktur Sistem Pembayaran Nasional
Ia menempatkan penguatan infrastruktur sebagai tulang punggung ekonomi digital.
Menurutnya, sistem pembayaran yang efisien, aman, dan terintegrasi akan melahirkan ekonomi nasional yang berdaya tahan dan berdaulat di tengah turbulensi global.
- Membangun Ekosistem Digital yang Terpercaya dan Inovatif
Dicky menekankan pentingnya kepercayaan publik dan dunia usaha terhadap sistem keuangan digital. Inovasi, katanya, harus berjalan seiring dengan tata kelola yang kuat agar tidak melahirkan ketimpangan baru dalam akses ekonomi. - Mendorong Pertumbuhan Inklusif dan Berkelanjutan
Pertumbuhan, tegasnya, bukan sekadar angka statistik, melainkan alat untuk memperluas keadilan ekonomi hingga ke pelosok daerah dan kelompok rentan.
“Minyak dan Emas Baru” Bernama Data
Dalam salah satu pernyataannya yang mencuri perhatian, Dicky mengibaratkan data digital sebagai
“Ninyak dan emas baru” bagi perekonomian modern. Namun, ia mengingatkan bahwa kekayaan ini akan menjadi sia-sia tanpa talenta digital yang mumpuni dan pusat inovasi yang hidup.
“Job creation, digital talent pool, dan innovation hub adalah tiga jawaban atas kebutuhan industri masa depan,” kata Dicky, mengaitkan digitalisasi dengan penciptaan lapangan kerja dan daya saing nasional.
Digitalisasi Daerah, Kunci Keadilan Fiskal
Tak berhenti di tingkat pusat, Dicky juga mendorong penguatan digitalisasi pemerintah daerah.
Menurutnya, sistem pembayaran dan layanan keuangan digital di daerah akan membantu pemerintah mengoptimalkan pendapatan, memperbaiki efisiensi belanja, serta menutup celah kebocoran fiskal.
Target 8 Persen: Optimisme atau Keniscayaan?
Dengan sinergi lintas lembaga dan kolaborasi nasional, Dicky menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029–2030 bukan sekadar ambisi, melainkan keniscayaan sejarah.
“Teknologi membangun kecepatan, tata kelola membangun kepercayaan, dan kolaborasi membangun masa depan bangsa,” tutupnya.
Dinamika Pemilihan Deputi Gubernur BI
Sebagai informasi, Dicky Kartikoyono saat ini menjabat sebagai Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia.
Ia menjadi kandidat kedua dalam rangkaian uji kelayakan calon Deputi Gubernur BI untuk menggantikan Juda Agung, yang mengundurkan diri pada 13 Januari 2026.
Uji kelayakan dilanjutkan pada hari yang sama oleh kandidat ketiga, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono.
Sebelumnya, pada Jumat (23/1), kandidat pertama Solikin M. Juhro, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, telah lebih dahulu mengikuti tahapan tersebut.
Komisi XI DPR RI dijadwalkan menggelar rapat internal pada Senin (26/1/2026) untuk mengambil keputusan secara musyawarah mufakat.
Hasilnya akan dilaporkan kepada pimpinan DPR RI dan dimintakan persetujuan dalam Rapat Paripurna pada Selasa (27/1/2026).
Harapan Tegas & Elegan dalam Naskah Ini:
“Stabilitas adalah fondasi, sistem pembayaran adalah mesin penggerak pertumbuhan.”
“Data adalah minyak dan emas baru bagi kedaulatan ekonomi modern.”
“Pertumbuhan bukan sekadar angka, melainkan jembatan menuju keadilan ekonomi.”
“Teknologi membangun kecepatan, tata kelola membangun kepercayaan.”
“Talenta digital adalah benteng daya saing bangsa di abad keuangan virtual.”
“Digitalisasi daerah adalah pintu masuk keadilan fiskal nasional.”
“Kolaborasi hari ini adalah kemakmuran generasi esok.”
(Nurlince Hutabarat)




