Medan, LINI NEWS – Anggota DPRD Kota Medan sekaligus Sekretaris DPC PDI Perjuangan, Robi Barus, kembali membuat gebrakan politik yang visioner. Ia menggagas pendirian sekolah partai di tingkat kota, sebagai wadah mencetak kader ideologis yang siap berjuang di garis depan demi kepentingan rakyat kecil.
Inspirasi Robi lahir dari sekolah partai DPP PDI Perjuangan di Lenteng Agung, Jakarta. Baginya, model pendidikan politik itu layak dihadirkan di Kota Medan agar lahir kader-kader yang berpikir tajam, berjiwa teguh, dan berakar pada penderitaan rakyat.
“Politik bukan sekadar panggung kekuasaan, tetapi ruang pengabdian untuk wong cilik,” tegas Robi dalam keterangan persnya, Selasa (9/9/2024).
Robi menekankan, sekolah partai ini bukan sekadar formalitas, melainkan jembatan ideologi dan realitas. Para kader akan ditempa agar paham makna pengabdian, hidup bersama rakyat, serta setia memperjuangkan aspirasi masyarakat kecil.
Menurutnya, politik harus kembali ke ruh awal: mendengar, memahami, dan membela. Ia menolak keras model kader instan yang hanya mengejar kursi tanpa fondasi ideologi.
“Kader sejati bukan yang hanya hadir saat Pemilu, tapi yang menyalakan lilin di tengah gelapnya persoalan rakyat,” ungkapnya penuh makna.
Robi optimistis seluruh fungsionaris PDI Perjuangan di Medan akan mendukung pembangunan sekolah partai ini. Lebih dari itu, ia ingin sekolah partai menjadi rumah ideologi sekaligus benteng perjuangan.
“Kader yang lahir dari sekolah partai adalah mereka yang tidak mudah goyah oleh badai kepentingan, sebab mereka berakar pada tanah rakyat,” ucap Robi penuh keyakinan.
Bagi Robi, kekuatan partai terletak pada kualitas kader. Ia menegaskan, pendidikan politik adalah nafas panjang bagi kelangsungan perjuangan partai dan rakyat.
“Kader yang terdidik adalah penentu arah bangsa. Bila salah arah, rakyatlah yang menanggung luka,” katanya mengingatkan.
Sebagai penutup, Robi menekankan bahwa dirinya tak ingin sekolah partai hanya menjadi slogan. Baginya, ini adalah tugas sejarah.
“Kader sejati bukan yang hanya hadir saat Pemilu, tapi yang menyalakan lilin di tengah gelapnya persoalan rakyat.”
“Kader boleh berganti, pemimpin boleh silih datang, tapi ideologi dan pengabdian harus abadi,” pungkasnya dengan penuh ketegasan.
(Nurlince Hutabarat)




