Medan, LINI NEWS – Aura perebutan kursi Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) kian membara. Delapan tokoh akademik resmi mendaftarkan diri, siap bertarung memperebutkan mandat kepemimpinan kampus tertua dan terbesar di Sumatera Utara. Pertarungan ini bukan sekadar tentang siapa yang akan duduk di kursi rektorat, tetapi tentang siapa yang berani mengarahkan haluan kapal besar bernama USU menuju masa depan. Rabu (17/9/2025)
Delapan Nama Besar yang Siap Bertarung:
Dr. Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak, CA – dikenal sebagai akademisi teliti dengan reputasi di bidang akuntansi dan tata kelola.
Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si – petahana yang mengusung pengalaman dan kesinambungan program.
Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, S.Si – sosok perempuan akademisi dengan reputasi penelitian internasional.
Dr. dr. Johny Marpaung, M.Ked (OG), Sp.OG, Subsp-KFM – dokter spesialis kandungan yang membawa gagasan kesehatan dan sains ke arena kepemimpinan.
Syahril Efendi – tokoh dengan pengalaman birokrasi kampus yang panjang.
Isfenti Sadalia – akademisi hukum yang dikenal vokal dalam memperjuangkan integritas.
Himsar Ambarita – ilmuwan dengan perhatian besar pada teknologi dan masa depan kampus digital.
Hasim Purba – tokoh senior dengan jam terbang panjang dalam dunia akademik dan hukum.
Suara-suara Kritis & Harapan
Kontestasi ini bukan sekadar ritual lima tahunan. Masyarakat kampus menuntut rektor yang visioner, transparan, sekaligus berintegritas.
“Rektor bukan sekadar jabatan, melainkan arah kompas yang menentukan kemana kapal besar USU berlayar,” ujar seorang pengamat pendidikan Bekas Guru di Medan.
Mahasiswa pun bersuara lantang. “Pertarungan rektorat adalah ujian: siapa yang benar-benar membawa ilmu, siapa yang hanya membawa ambisi,” tegas seorang mahasiswa Fakultas Hukum.
Alumni menambahkan nada kritis, “Sejarah USU akan mencatat, bukan siapa yang berjanji, tetapi siapa yang berani menepati janji!”
Audisi 24 September: Panggung Penentuan
Semua mata kini tertuju pada Audisi Calon Rektor USU yang akan digelar pada 24 September 2025 di Auditorium USU. Di sinilah kedelapan kandidat wajib menyingkap kartu truf mereka: visi, misi, rekam jejak, dan strategi.
Senat Akademik bersama Kementerian Pendidikan akan menjadi hakim terakhir, namun publik percaya suara moral sivitas akademika tak bisa diabaikan.
Perebutan Rektor USU
“USU adalah wajah Sumatera Utara, maka rektornya harus lebih dari sekadar akademisi; ia harus negarawan.”
“Di medan kampus, integritas lebih tajam dari pedang, dan visi lebih berharga dari sekadar gelar.”
“Rektor bukan untuk diagungkan, melainkan untuk dipertanggungjawabkan.”
“Kursi rektor USU adalah pintu, yang terbuka bagi pemimpin berilmu, namun tertutup bagi jiwa yang haus kuasa semata.”
Kini, publik menunggu:
Siapakah yang akan terpilih menjadi nahkoda baru Universitas Sumatera Utara, mengarahkan bahtera ke samudera kejayaan, yang memiliki eletabilitas etos kerja yang serius fokus atau justru karam di gelombang politik kampus? (Nurlince Hutabarat)




