Satuan Brimob Polda Sumatera Utara melalui Operasi Aman Nusa II : Hadir Mengangkat Harapan Warga

0
152

Tapanuli Selatan, LINI NEWS – Kabut pagi belum benar-benar terangkat ketika derap langkah personel Satuan Brimob Polda Sumatera Utara mulai memenuhi Jalan Lintas Huta Godang, Kecamatan Batang Toru. Di depan mereka, hamparan lumpur bercampur serpihan kayu dan puing rumah warga menjadi saksi bisu betapa kerasnya banjir bandang yang melanda beberapa hari lalu.

Namun bagi warga, kehadiran para personel Brimob ini bukan sekadar kedatangan petugas berseragam—melainkan datangnya harapan.

Melalui Operasi Aman Nusa II, pasukan diturunkan untuk melakukan percepatan pemulihan: membersihkan rumah, mengevakuasi barang-barang yang masih dapat diselamatkan, membuka akses jalan, hingga merapikan kembali sekolah yang menjadi tempat anak-anak menata masa depan mereka.

“Yang kami kejar bukan sekadar laporan selesai. Yang kami kejar adalah rasa pulih warga.”

— Kombes Pol Rantau Isnur Eka, Dansat Brimob Polda Sumut

Di lapangan, Dansat Brimob Polda Sumut Kombes Pol Rantau Isnur Eka, tidak hanya berdiri memantau. Ia turun menembus lumpur, berbicara dengan warga, menyaksikan langsung bagaimana personelnya bekerja dengan wajah penuh ketegasan namun hati penuh empati.

Dalam satu momen, ia menatap rumah yang hampir rata dengan lumpur dan berkata:

“Ketika warga kehilangan rumahnya, mereka juga kehilangan separuh jiwanya. Maka tugas kami adalah membantu mereka menemukan kembali separuh itu.”

Ucapannya memantik semangat setiap personel yang tengah bekerja.

Peleton 1: Menyelamatkan Jejak Kehidupan dari Balik Lumpur

Dipimpin IPDA Rudy Darmawan, pasukan ini bergerak dari pintu ke pintu.
Di rumah Alex Purnaluga Simbolon, seorang warga lansia, personel Brimob mengangkat sofa yang terbalik, merapikan barang-barang yang masih dapat diselamatkan, dan membersihkan hampir seluruh ruangan.

Alex yang berusia 80-an itu hanya mampu berkata pelan:

“Nak… terima kasih. Rumahku rasanya hidup lagi.”

Air matanya membuat para personel berhenti sejenak—bukan karena lelah, tapi karena terharu.

Peleton 2: Menembus Sudut Tersulit Demi Kembali Terasa Seperti Rumah

Dipimpin IPDA Nanang Lubis, pasukan ini fokus pada bagian dalam rumah yang terendam lumpur hingga setinggi lutut.
Di kediaman Santos Silalahi, mereka menemukan buku-buku anaknya yang rusak berat. Seorang personel mengeringkan satu buku yang masih tersisa, lalu meletakkannya di atas meja yang sudah dibersihkan.

“Biar anakmu masih ingat sekolahnya, Pak,” ucap salah seorang anggota.

Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat warga merasa tidak sendirian.

Peleton 3: Menghidupkan Kembali Gedung Sekolah

Di bawah kendali AIPTU Robert J. Aritonang, S.H., peleton ini bekerja untuk memulihkan SD Negeri 100704 Huta Godang.

Ketika ruang kelas mulai bersih, papan tulis disapu, bangku ditata, dan halaman sekolah dibebaskan dari lumpur, seorang guru perempuan tiba-tiba menangis melihat ruang yang selama ini ia gunakan kembali terlihat seperti semula.

“Saya pikir kami akan kehilangan sekolah ini…” katanya tersedu.
“Terima kasih, Brimob… kalian mengembalikan masa depan murid-murid kami.”

Pengawalan Alat Berat & Lalin: Menjaga Jalur Hidup Masyarakat

Brimob juga memastikan setiap alat berat yang masuk aman dari hambatan warga berkerumun maupun kendaraan yang masih ingin melintas. Mereka mengatur lalu lintas agar bantuan bisa terus mengalir masuk dan keluar.

“Kalau akses terbuka, hidup warga terbuka,” ujar seorang personel sambil menyeka keringat di wajahnya.

Pesan Eksklusif Dansat Brimob – Versi Lebih Humanis

Tuturan Dansat Brimob yang humanis dan emosional, bisa dipakai untuk media, siaran pers, atau video dokumenter:

“Setiap rumah yang kami bersihkan, kami bayangkan seperti rumah kami sendiri.”

“Kami tidak ingin warga merasa sendirian. Di tengah bencana, Brimob harus menjadi keluarga bagi masyarakat.”

“Pemulihan bukan tentang seberapa cepat selesai, tetapi seberapa dalam kehadiran kita berarti bagi warga.”

“Kami datang untuk bekerja, tapi kami pulang dengan pelajaran tentang ketabahan.”

“Anak-anak Tapsel harus tetap sekolah besok. Itu alasan terbesar kami memulihkan sekolah hari ini.”
(Nurlince Hutabarat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini