Medan, LINI NEWS – Pasca insiden yang sempat menjadi perhatian publik, Media ini mendatangi kediaman Robin Marojahan Silalahi alias Ojak yang mantan murid, di Jalan Karya Rakyat, Gang Tapanuli, Sei Agul, Medan, guna melakukan konfirmasi terkait berbagai informasi yang berkembang.
Dalam konfirmasi tersebut, wartawan juga menanyakan beberapa hal antara lain;
Perkembangan penyelesaian persoalan yang sebelumnya sempat diupayakan melalui jalur damai.
Media ini mempertanyakan apa Kebenaran yang mengadukan dan mengadakan demo di DPRD Medan!?
Menurut wartawan, Ojak merespons dengan arogan nada tinggi seperti kesurupan seraya meninju meja berulang dengan keras, terhadap wartawan yang juga bekas gurunya
dan meminta agar Antonius Devolis Tumanggor menyampaikan permintaan maaf kepadanya
Saat dimintai penjelasan mengenai klaim dirinya sebagai korban pengeroyokan, diduga Ojak disebut-sebut belum memiliki alat bukti yang kuat, seperti rekaman CCTV maupun saksi yang dapat memperkuat dugaan tersebut.
Sementara, sebelumnya, dalam sebuah konferensi pers, disebutkan telah ada upaya perdamaian yang ditenggarai difasilitasi Ketua STM Manullang bersama Kepala Lingkungan Junus Banjarnahor.
Dalam proses tersebut, menurut informasi yang diperoleh wartawan, sempat berkembang pembahasan mengenai penyelesaian secara damai. Namun Ojak terkesan belum menghargai upaya perdamaian tersebut.
Ada Apa dengan Masalah ini?
Bahkan, menurut informasi, nilai penyelesaian yang sebelumnya disebut sekitar Rp30 juta diduga berkembang menjadi tuntutan fantastis menjadi sebesar Rp1,2 miliar?
Informasi tersebut masih memerlukan klarifikasi dari seluruh pihak yang terkait.
“Konfirmasi adalah hak pers, sedangkan keterbukaan adalah bentuk penghormatan terhadap publik.”
Karena suasana konfirmasi semakin memanas, wartawan memilih mengakhiri wawancara dan meninggalkan lokasi secara baik-baik demi menghindari terjadinya kesalahpahaman yang lebih luas.
“Menghormati tamu adalah cermin akhlak, menghargai pertanyaan adalah tanda kedewasaan.”
“Kebenaran akan semakin kuat apabila didukung bukti, bukan sekadar pengakuan.”
“Perdamaian lahir dari kerendahan hati, bukan dari tuntutan yang terus meninggi.”
“Emosi tidak pernah menggantikan fakta dalam mencari keadilan.”
“Bukti yang lemah akan sulit mengalahkan fakta yang kuat.”
“Menghargai upaya damai adalah langkah bijaksana sebelum memilih jalan sengketa.”
“Kejujuran, etika, dan hati nurani akan selalu menjadi hakim terbaik dalam kehidupan.”
Orang yang bijaksana menjawab dengan akal sehat, bukan dengan kemarahan.”
“Emosi dapat memenangkan perdebatan sesaat, tetapi hanya kebenaran yang memenangkan sejarah.”
(Red)




