Tri Suci Waisak 2570 TB/2026 di Medan: Ketua Permabudhi Sumut Drs Wong Chun Sen Tarigan M.Pd B Ajak Masyarakat Perkuat Toleransi dan Harmoni Lewat Seni Budaya

0
21

Medan, LINI NEWS – Ketua PD Permabudhi Sumatera Utara, 8Drs Wong Chun Sen Tarigan M.Pd.B hadir bersama jajaran pengurus dalan semangat kebersamaan dan keharmonisan terasa begitu kuat dalam perayaan Tri Suci Waisak 2570 TB/2026 dan Festival Seni Budaya Buddhis 2026 yang digelar meriah di Lantai 3A Centre Point Mall Medan, Sabtu (10/5/2026).

Kegiatan ini dihadiri ribuan tamu undangan dari berbagai kalangan masyarakat, tokoh agama, organisasi sosial, hingga pecinta seni dan budaya Buddhis.

Ketua PD Permabudhi Sumut disampaikan oleh Wakil Ketua PD Permabudhi Sumut, Budi Malem, di hadapan para undangan yang memenuhi lokasi kegiatan dengan penuh antusias.

Festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan seni budaya Buddhis semata, tetapi juga menjadi wadah mempererat persaudaraan antarumat beragama serta menanamkan nilai-nilai kebajikan, cinta kasih, toleransi, dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Beragam penampilan budaya yang disuguhkan menampilkan kekayaan tradisi Buddhis yang sarat makna spiritual dan nilai kemanusiaan.

Dalam sambutannya, Wong Chun Sen Tarigan menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada PC Permabudhi Medan yang diketuai Otto selaku Ketua Panitia, serta Fa Hua Exhibition (Yayasan Karya Lestari Budaya) sebagai penyelenggara acara.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, khususnya Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara dan Centre Point Medan.

Menurutnya, seni dan budaya merupakan warisan luhur bangsa yang memiliki kekuatan besar dalam menyatukan keberagaman.

Di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, budaya dapat menjadi jembatan pemersatu yang mempererat hubungan antarsuku, agama, dan golongan.

“Festival Seni Budaya Buddhis ini bukan hanya menjadi ajang pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan, menanamkan nilai-nilai kebajikan, toleransi, cinta kasih, dan keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk,” ungkapnya.

Ia juga berharap kegiatan ini mampu membuka wawasan masyarakat terhadap nilai-nilai universal ajaran Buddha yang damai, penuh kasih, serta menjunjung tinggi kehidupan harmonis.

Festival tersebut diharapkan menjadi ruang edukasi dan inspirasi bagi generasi muda sekaligus memperkaya khazanah budaya di Kota Medan dan Sumatera Utara.

Tidak lupa, Wong Chun Sen Tarigan menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh panitia dan relawan yang telah bekerja keras menyukseskan acara.

Menurutnya, dedikasi dan semangat pengabdian yang diberikan menjadi bagian dari kebajikan yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kerja keras seluruh panitia dan relawan. Semoga segala usaha dan kebajikan yang dilakukan menjadi ladang pahala dan membawa manfaat bagi banyak orang,” ujarnya.

Menjelang akhir sambutannya, ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan bangsa, memperkuat toleransi antarumat beragama, serta melestarikan seni budaya sebagai identitas dan kekayaan Indonesia yang tidak ternilai.

Dengan penuh semangat kebersamaan, perayaan kemudian ditutup dengan ucapan, “Namo Buddhāya, Festival Seni Budaya Buddhis 2026 secara resmi kita sambut dan semoga berjalan sukses serta membawa manfaat bagi masyarakat luas.” tutur Wong.

Acara berlangsung dengan penuh sukacita, menghadirkan nuansa damai dan kebersamaan yang menjadi cerminan indah kehidupan masyarakat Indonesia yang harmonis dalam keberagaman.

Wong menyampaikan:

Inspiratif tentang Waisak, Toleransi, dan Kebersamaan

“Keindahan budaya lahir dari hati yang saling menghormati.”

“Toleransi bukan sekadar hidup berdampingan, tetapi saling menjaga dalam kedamaian.”

“Cinta kasih adalah bahasa universal yang mampu menyatukan semua perbedaan.”

“Seni dan budaya menjadi jembatan yang menghubungkan hati manusia tanpa batas.”

“Keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu.”

“Kebajikan kecil yang dilakukan dengan tulus akan membawa manfaat besar bagi sesama.”

“Harmoni dalam kehidupan tercipta ketika manusia belajar menghargai satu sama lain.” imbuh Wong mengakhiri.
(Nurlince Hutabarat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini