Medan, LINI NEWS – Semangat kebersamaan dan kepedulian sosial kembali ditunjukkan keluarga besar Partai Gerindra dalam momentum Ramadan. Kegiatan Gerindra Berbagi Takjil yang digelar di DPRD Kota Medan berlangsung penuh kehangatan, kekompakan, dan pesan sosial yang kuat.
Sejumlah Tokoh penting hadir dalam kegiatan itu, di antaranya unsur dari DPD Partai Gerindra Sumatera Utara, DPRD Sumut, Wakil Ketua DPRD Medan, Zulkarnaen, Said Siregar, Dewi Budiarti, Ketua Media Indonesia Raya Muhri Hafiz, serta para perwakilan lainnya.
Kegiatan berbagi takjil tersebut bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi wujud nyata bahwa politik sejatinya harus hadir menyentuh masyarakat.
Di tengah suasana Ramadan yang sarat nilai empati, Gerindra tampil membawa pesan bahwa keberadaan partai harus memberi manfaat konkret, sekecil apa pun bentuknya, bagi rakyat.
Dalam kegiatan itu, takjil dibagikan kepada masyarakat dengan penuh keakraban.
Kehadiran para kader, pengurus, wakil rakyat, dan unsur organisasi pendukung memperlihatkan bahwa semangat gotong royong di tubuh Gerindra bukan hanya slogan, melainkan energi yang benar-benar hidup dan dijalankan bersama.
Tokoh yang akrab disapa Bunda Yin dalam kesempatan itu menegaskan bahwa kekuatan utama sebuah gerakan politik terletak pada kekompakan dan kebermanfaatannya bagi masyarakat.
Menurutnya, kebersamaan yang dibangun di internal partai harus bermuara pada dampak sosial yang nyata.
“Kompak bergerak untuk berdampak bagi masyarakat. Inilah semangat yang harus terus dijaga. Kita tidak boleh hanya hadir dalam ruang politik, tetapi juga harus hadir dalam ruang kemanusiaan,” ujar Bunda Yin.
Pernyataan itu menjadi penegas bahwa Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan untuk memperkuat solidaritas sosial.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dirasakan masyarakat, aksi sederhana seperti berbagi takjil memiliki makna yang jauh lebih dalam:
Menghadirkan kehangatan, menunjukkan kepedulian, dan menanamkan bahwa rakyat tidak boleh merasa berjalan sendiri.
Kehadiran unsur DPD Partai Gerindra Sumatera Utara, DPRD Sumut, dan Wakil Ketua DPRD Medan dalam kegiatan tersebut juga memperlihatkan sinergi yang solid antara struktur partai dan para wakil rakyat.
Ini menjadi sinyal bahwa Gerindra ingin menegaskan jati dirinya sebagai partai yang tidak hanya berbicara dalam forum-forum resmi, tetapi juga turun langsung di tengah masyarakat.
Zulkarnaen, Said Siregar, Dewi Budiarti, Ketua Media Indonesia Raya Muhri Hafiz, serta para perwakilan lainnya tampak membaur dalam kegiatan, ikut menunjukkan bahwa semangat pelayanan kepada masyarakat harus terus dirawat.
Keterlibatan mereka menjadi simbol bahwa kekuatan partai tidak dibangun dari nama besar semata, tetapi dari kesediaan untuk terjun langsung, menyapa rakyat, dan menghadirkan manfaat.

Dalam perspektif sosial-politik, kegiatan seperti ini memiliki arti penting.
Sebab, kepercayaan masyarakat terhadap partai politik tidak cukup dibangun lewat pidato, baliho, atau narasi kampanye.
Kepercayaan tumbuh ketika masyarakat melihat sendiri ada kepedulian, ada sentuhan, dan ada kehadiran nyata di tengah kehidupan mereka sehari-hari.
“Kegiatan kecil yang dilakukan dengan hati yang besar akan melahirkan kepercayaan yang besar pula,” ungkap Bunda Yin.
Ramadan, dalam hal ini, menjadi ruang refleksi sekaligus ruang aksi.
Refleksi bahwa jabatan, posisi, dan organisasi harus bermakna bagi publik.
Aksi bahwa setiap kader dan pemangku kepentingan partai harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Gerindra, melalui kegiatan berbagi takjil ini, seolah ingin menegaskan bahwa politik yang beradab adalah politik yang tahu cara berbagi.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa komunikasi antara unsur partai, legislatif, dan organisasi pendukung seperti Media Indonesia Raya berjalan dalam semangat kolektif.
Tidak ada sekat yang kaku. Semua bergerak dalam satu napas: memberi dampak sosial yang langsung dirasakan masyarakat.
“Partai yang besar bukan hanya partai yang banyak kursinya, tetapi partai yang banyak manfaatnya untuk rakyat,” tegas Bunda Yin.
Pesan tersebut sangat kuat. Di tengah seringnya publik menilai partai politik dari konflik, persaingan, dan perebutan kepentingan, kegiatan berbagi takjil di DPRD Kota Medan justru menampilkan wajah politik yang lebih menyejukkan.
Politik yang hadir dengan tangan terbuka, dengan senyum, dengan kepedulian, dan dengan semangat kebersamaan.
Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi cermin bahwa Gerindra di Sumatera Utara tidak ingin kehilangan kedekatan emosional dengan masyarakat. Berbagi takjil mungkin tampak sederhana, tetapi dari kesederhanaan itu ada nilai besar yang sedang dibangun:
Nilai persaudaraan, solidaritas, dan keberpihakan sosial.
“Jangan pernah meremehkan aksi sederhana, karena sering kali dari yang sederhana itulah masyarakat merasakan ketulusan,” kata Bunda Yin lagi.
Di mata publik, kekompakan para kader dan pengurus dalam kegiatan ini menjadi nilai tersendiri.
Apalagi kehadiran unsur DPD Partai Gerindra Sumatera Utara, DPRD Sumut, Wakil Ketua DPRD Medan, dan tokoh-tokoh lain memperlihatkan satu barisan yang bergerak dalam semangat yang sama.
Ini bukan hanya soal pembagian takjil, tetapi soal bagaimana partai menunjukkan budaya kerja kolektif dan kepedulian yang nyata.
Kegiatan di DPRD Kota Medan itu pun menjadi panggung moral bahwa lembaga politik tidak seharusnya berjarak dari masyarakat.
Justru dari tempat-tempat seperti itulah harus lahir pesan kemanusiaan, pesan empati, dan pesan kebermanfaatan sosial.
“Kekompakan tanpa kepedulian hanya menjadi keramaian. Tetapi kekompakan yang disertai kepedulian akan menjelma menjadi gerakan yang berdampak,” ujar Bunda Yin.
Gerindra melalui kegiatan ini seakan ingin mengirimkan pesan tegas bahwa kebersamaan internal harus dibuktikan dengan kerja-kerja sosial yang menyentuh langsung rakyat. Tidak cukup kompak dalam rapat, tidak cukup solid dalam strategi, tetapi juga harus nyata dalam aksi.
Dengan terselenggaranya kegiatan Gerindra Berbagi Takjil di DPRD Kota Medan, masyarakat melihat bahwa Ramadan telah menjadi medium untuk memperkuat hubungan antara partai dan rakyat.
Di balik pembagian takjil itu, ada nilai yang lebih besar sedang dirawat: kebersamaan yang tidak berhenti di internal, tetapi meluas menjadi energi sosial bagi masyarakat.
“Ketika semua bergerak bersama, maka manfaatnya akan terasa lebih luas. Dan ketika gerakan itu lahir dari kepedulian, masyarakat akan merasakan kehadiran yang tulus,” pungkas Bunda Yin.
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda musiman, melainkan menjadi budaya politik yang terus tumbuh di tubuh Gerindra:
Budaya hadir, budaya peduli, dan budaya memberi dampak. Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya ingin melihat siapa yang datang, tetapi siapa yang benar-benar peduli.
Kompak bergerak untuk berdampak bagi masyarakat.
Kita tidak boleh hanya hadir dalam ruang politik, tetapi juga harus hadir dalam ruang kemanusiaan.
Kegiatan kecil yang dilakukan dengan hati yang besar akan melahirkan kepercayaan yang besar pula.
Partai yang besar bukan hanya partai yang banyak kursinya, tetapi partai yang banyak manfaatnya untuk rakyat.
Jangan pernah meremehkan aksi sederhana, karena sering kali dari yang sederhana itulah masyarakat merasakan ketulusan.
Kekompakan tanpa kepedulian hanya menjadi keramaian, tetapi kekompakan yang disertai kepedulian akan menjelma menjadi gerakan yang berdampak.
Ketika semua bergerak bersama, maka manfaatnya akan terasa lebih luas.
(Nurlince Hutabarat)




