Dari Kampus ke Parit Busuk: Mahasiswa UHN Menanam Kepedulian di Tengah Luka Banjir Medan Barat

0
186

Medan, LINI NEW – Kepedulian tidak selalu lahir dari mimbar megah, tetapi tumbuh dari tangan-tangan muda yang mau menyentuh langsung luka masyarakat. Inilah yang tampak saat 30 mahasiswa Universitas HKBP Nommensen (UHN) bersama seorang dosen pendamping turun langsung ke kawasan terdampak banjir di Jalan T.A. Hamzah, Gang Melati II, Sei Agul, Kecamatan Medan Barat, Selasa (16/12/2025).

“Ilmu yang tak menyentuh penderitaan sosial akan kehilangan maknanya.”i

Mahasiswa dari Program Studi Teknologi dan Pertanian ini didampingi oleh Dosen Togap Siahaan, S.P., M.P., melaksanakan kegiatan sosialisasi lingkungan dan aksi sosial kepada warga yang dua kali dilanda banjir dalam waktu berdekatan. Kehadiran mereka disambut antusias oleh warga yang selama ini bergelut dengan persoalan sampah dan buruknya aliran parit yang dikenal warga sebagai “Parit Busuk”.

Fokus utama kegiatan adalah gotong royong membersihkan tumpukan sampah di sepanjang pinggiran parit besar yang menjadi salah satu penyebab utama banjir. Mahasiswa dan warga bahu-membahu membersihkan lingkungan tanpa sekat status atau kepentingan.

“Gotong royong adalah bahasa sunyi yang dipahami semua lapisan masyarakat.”

Tak hanya kerja fisik, mahasiswa UHN juga membawa edukasi lingkungan berkelanjutan melalui sosialisasi Eco Enzim—sebuah solusi ramah lingkungan yang memanfaatkan limbah potongan sayur dan buah rumah tangga. Materi disampaikan oleh Ketua Mahasiswa, Julius Zebua, didampingi langsung oleh dosen pembimbing.

Penjelasan ini merupakan bagian dari bimbingan Pembina dan Dosen Pemberdayaan UHN, Dr. Albina Ginting, yang menekankan pentingnya pendekatan edukatif dalam penanganan masalah lingkungan berbasis masyarakat.

“Sampah yang dikelola dengan benar dapat berubah menjadi berkah.”

Selain sosialisasi, mahasiswa juga menyalurkan bantuan sosial sebagai wujud empati terhadap warga terdampak banjir. Bantuan tersebut berupa beras, telur, mi instan, minyak goreng, serta snack dan minuman botol untuk anak-anak.

“Kami bergotong royong membersihkan sampah di pinggiran parit besar, lalu memberikan bantuan snack dan sembako sebagai bentuk kepedulian terhadap warga terdampak bencana banjir,” ujar Julius Zebua.

“Bantuan kecil yang tulus sering kali lebih bermakna daripada janji besar yang kosong.”

Pembagian bantuan dilakukan secara langsung dan humanis bersama Togap M.H. Siahaan, S.P., M.P., sehingga tercipta suasana kekeluargaan antara mahasiswa dan warga. Anak-anak tampak ceria menerima bingkisan sederhana yang setidaknya menghadirkan senyum di tengah situasi sulit.

“Anak-anak berhak tersenyum, bahkan di tengah banjir dan keterbatasan.”

Kegiatan ini juga melibatkan Bendahara Mahasiswa, Erika Grace Siregar, serta Yessica Asafine Simanjuntak, mahasiswa Fakultas Kedokteran asal Riau, yang ikut aktif dalam aksi sosial dan pendampingan warga.

“Kampus sejati bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang pengabdian.”

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Universitas HKBP Nommensen membuktikan bahwa peran kaum muda dalam penanganan masalah lingkungan dan sosial bukan sekadar wacana, melainkan tindakan nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Ketika mahasiswa turun ke masyarakat, di situlah masa depan sedang dibentuk.”

Aksi ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil—membersihkan parit, menyapa warga, dan menanam kesadaran bahwa lingkungan bersih adalah tanggung jawab bersama.
(Nurlince Hutabarat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini