Medan, LINI NEWS – Di Bawah Kepempinan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, S.I.K., M.H. Dansat Brimob Polda Sumut, Kombes Pol Rantau Isnur Eka, S.I.K., M.M., M.H., M.Han, dan jajarannya. terus ringan tangan.
Bersama hadirnya dalam berita memberitakan Ke Publik Kabid Humas Polda Sumatera Utara Kombes Pol Dr. Ferry Walintukan, S.I.K., S.H., M.H. dan Tim menyalurkan berita ke publik, memberitakan semua aktivitasnya.
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution, Tapanuli Raya atau Tapanuli Utara, Dr JTP Hutabarat, Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) H. Gus Irawan Pasaribu, SE, Ak, MM, CA,
dan lain bersinergis dengan Bupati Tapanuli Utara, Bupati Tspanuli Selatan tempat berkarya nyata dengan sangat baik merajut kebersamaan bersama warga korban bencana 27 November 2025 dalam tugas
Polda Sumatera Utara terus merajut dan merangkai, menjangkau mayarakat dalam tugas
“Ketika Seragam Menjadi Pelukan, dan Tugas Menjadi Doa”
Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara pada 27 November 2025 bukan sekadar bencana alam, melainkan ujian kemanusiaan.
Di tengah arus air yang merendam rumah, sekolah,
dan tempat ibadah, Polda Sumatera Utara hadir bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi sebagai saudara yang menyalakan harapan.
Sejak jam-jam pertama pasca banjir, personel Polda Sumut diterjunkan ke lokasi terdampak.
Mereka mengevakuasi lansia, anak-anak, dan warga sakit dari rumah yang terisolasi.
Dapur umum didirikan, posko kesehatan dibuka, dan pengamanan wilayah rawan penjarahan diperketat.
Di balik sepatu bot yang basah dan seragam berlumpur, terpatri wajah-wajah yang tak menyerah pada lelah.
Kehadiran polisi di tengah warga bukan sekadar formalitas tugas, melainkan wujud nyata bahwa negara tidak pernah absen saat rakyatnya terjatuh.
Dari bantaran sungai hingga gang sempit pemukiman, dari siang yang terik hingga malam yang dingin, Polda Sumut menjadikan pengabdian sebagai napas panjang kemanusiaan.
Kinerja dan Pengabdian Polda Sumatera Utara
“Ketika air merenggut rumah, kami datang untuk menjaga harapan.”
“Seragam bukan hanya tanda kewenangan, tetapi janji untuk selalu berada di sisi rakyat.
“Di tengah banjir, kami belajar bahwa keberanian sejati adalah menolong tanpa pamrih.”
“Langkah kami basah oleh lumpur, tetapi tekad kami kering dari keraguan.”
“Tugas negara menemukan maknanya saat tangis warga berubah menjadi senyum.”
“Kami tidak sekadar menjaga wilayah, kami merawat kemanusiaan.”
“Di setiap tangan yang kami ulurkan, ada doa yang kami titipkan.”
“Bencana boleh datang, tetapi kepedulian harus selalu lebih dahulu tiba.”
“Kami berdiri di antara bahaya dan rakyat, agar rakyat tetap berdiri dalam harapan.”
“Pengabdian bukan tentang dikenang, tetapi tentang hadir saat paling dibutuhkan.”
Karya nyata ini menjadi cermin bahwa Polda Sumatera Utara bukan hanya institusi penegak hukum, tetapi juga pilar kemanusiaan.
Di tengah derasnya bencana, mereka menegakkan satu hal yang tak pernah boleh runtuh: kepercayaan rakyat kepada negara.
Karya nyata ini menjadi cermin bahwa Polda Sumatera Utara bukan hanya institusi penegak hukum, tetapi juga pilar kemanusiaan.
Di tengah derasnya bencana, mereka menegakkan satu hal yang tak pernah boleh runtuh: kepercayaan rakyat kepada negara.
Pergi ke ladang menanam padi,
Air surut mentari berseri,
Tabahlah hati dalam musibah ini,
Negara hadir menemani setiap hari.
Burung nuri terbang ke seberang,
Hinggap sejenak di dahan cemara,
Meski banjir datang menerjang,
Kami bersama, negara tetap menjaga.
Pagi cerah di tepi telaga,
Angin lembut menyapa jiwa,
Kuatlah keluarga dalam duka,
Negara berdiri di sisi kita.
Perahu kecil melawan gelombang,
Menuju dermaga penuh harap,
Bersama rakyat negara membentang,
Menguatkan hati yang hampir penat.
Mentari terbit di balik awan,
Pelangi datang setelah hujan,
Negara hadir mengulurkan tangan,
Untuk keluarga yang diuji ketabahan.
Bunga melati harum baunya,
Tumbuh mekar di tepi halaman,
Meski banjir merenggut segalanya,
Harapan bangkit dalam kebersamaan.
Langit biru dihiasi mentari,
Burung terbang menuju seberang,
Tabah dan kuatlah wahai sanak famili,
Negara setia mendampingi langkah.
Pergi berlayar menuju seberang,
Angin sepoi mengantar perahu,
Rakyat dan negara berjalan seimbang,
Menguatkan hati yang pernah runtuh.
Hujan reda tanah pun kering,
Benih harapan mulai tumbuh,
Negara hadir tak pernah berpaling,
Bersama rakyat bangkit dan teguh.
Daun gugur di tepi sungai,
Air tenang membawa cerita,
Dalam duka kita bersatu rapi,
Negara dan rakyat satu suara. (Salomo Simorangkir)




