NTT, LINI NEWS – Kepedulian terhadap perempuan dan anak yang terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifatul Choiri Fauzi, bersama Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan sejumlah organisasi perempuan Indonesia, hadir langsung di Labuan Bajo, Senin (24/8/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak yang membutuhkan perlindungan, pendampingan serta pemulihan setelah bencana.
Rombongan Menteri PPPA mengunjungi Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak JPIC SSpS Labuan Bajo, termasuk Shelter Theresia, tempat sejumlah korban terdampak gempa mendapatkan pendampingan dari para suster.
Baru Mendarat, Langsung Datangi Shelter
Arifatul Choiri Fauzi mengatakan, rombongan baru saja tiba di Labuan Bajo namun langsung menyempatkan diri mengunjungi shelter untuk melihat kondisi para korban secara langsung.
“Kami baru landing dan langsung mengunjungi JPIC Shelter Theresia untuk menjenguk korban-korban yang saat ini didampingi oleh suster-suster yang ada di Shelter Theresia. Ada beberapa hal yang disampaikan kepada kami yang perlu kami follow up bersama Kak Seto,” ujar Menteri Arifatul.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penanganan korban tidak berhenti pada bantuan darurat semata. Perlindungan psikologis, keamanan, pendampingan dan pemenuhan kebutuhan khusus perempuan serta anak juga menjadi perhatian penting dalam situasi pascabencana.
Kehadiran Kak Seto Mulyadi bersama LPAI juga menjadi bagian penting dalam upaya memastikan hak-hak anak tetap terlindungi di tengah kondisi sulit akibat bencana.
Perhatian Khusus untuk Perempuan dan Anak
Menteri Arifatul menegaskan, pemerintah bersama LPAI dan organisasi perempuan akan memberikan perhatian khusus kepada perempuan dan anak yang menjadi korban gempa.
Setelah dari Labuan Bajo, rombongan dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Ruteng.
“Kita bersama LPAI dan organisasi perempuan mitra pembangunan lebih khusus memberikan perhatian kepada kebutuhan khusus perempuan dan anak.
Untuk perempuan dan anak-anak yang menjadi korban gempa, sesuai dengan arahan Presiden, lakukan yang terbaik untuk saudara kita di NTT,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa dalam setiap penanganan bencana, perempuan dan anak tidak boleh menjadi kelompok yang terabaikan.
JPIC: Kehadiran Menteri Menjadi Berkat
Pimpinan JPIC SSpS Labuan Bajo, Sr. Frederika Tanggu Hana, SSpS, menyampaikan rasa syukur atas kedatangan Menteri PPPA dan rombongan.
Menurutnya, kunjungan tersebut merupakan bentuk perhatian yang sangat berarti bagi para korban yang saat ini berada dalam pendampingan shelter.
“Saya bersyukur kehadiran Ibu Menteri. Kami tidak pernah menyangka akan hadir di tempat ini, di komunitas ini, khususnya untuk melihat perempuan dan anak yang saat ini ada di shelter ini. Kunjungan ini menjadi suatu berkat bagi kami dalam situasi bencana alam seperti ini,” ujarnya.
Sr. Rita, sapaan akrab Sr. Frederika, berharap kehadiran Menteri PPPA bersama seluruh tim dapat memberikan semangat dan sukacita bagi masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit akibat gempa.
“Kiranya kehadiran Ibu Menteri dan tim membawa berkat dan sukacita bagi seluruh masyarakat yang terkena dampak gempa,” harapnya.

Pemerintah Daerah Apresiasi Kepedulian Pemerintah Pusat
Staf Ahli Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan Kabupaten Manggarai Barat, Gabriel Bagung, turut menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat.
Atas nama Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat, Gabriel menyampaikan terima kasih atas kunjungan Menteri PPPA dan rombongan.
“Kehadiran Ibu Menteri dan rombongan dapat mengurangi beban dari masyarakat Manggarai Barat dan kita semua yang menjadi korban gempa bumi. Terima kasih atas segala bantuan yang diberikan kepada kami,” tuturnya.
Kehadiran pemerintah pusat, LPAI, organisasi perempuan dan berbagai elemen masyarakat diharapkan dapat memperkuat proses pemulihan masyarakat, terutama kelompok rentan yang membutuhkan perhatian lebih besar.
Lintas Organisasi Bersatu untuk Korban
Kunjungan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Manggarai Barat, Marsel Jebaru, beserta staf.
Hadir pula Ketua Muslimat NU Andi Nurhaiyari, Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia Wikanti Ogi, Ester Priyono dari PWRI, Ketua Umum Konghucu Indonesia Suriyani, Ketua Presidium Pengurus Pusat WKRI Elly Kusumawati Handoko, Wakil Ketua APJI Wiwi, serta perwakilan sejumlah organisasi perempuan Manggarai Barat.
Kebersamaan lintas organisasi tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan kerja bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi juga organisasi masyarakat, lembaga perlindungan anak, komunitas keagamaan dan seluruh elemen kemanusiaan.
Kemanusiaan Harus Hadir di Tengah Bencana dan Kunjungan Menteri PPPA RI bersama LPAI dan Kak Seto Mulyadi ke wilayah terdampak gempa Flores bukan sekadar agenda seremonial.
Lebih dari itu, kehadiran mereka menjadi pesan bahwa perempuan dan anak korban bencana memiliki hak untuk dilindungi, didengar, didampingi dan dipulihkan.
Di tengah suasana duka dan ketidakpastian akibat bencana, perhatian pemerintah menjadi kekuatan moral bagi para korban untuk kembali menata kehidupan.
Inspirasi Kak Seto dan LPAI
“Di tengah puing-puing bencana, kepedulian adalah tangan pertama yang mengangkat kembali harapan.”
“Perempuan dan anak bukan sekadar korban bencana, tetapi manusia yang memiliki hak untuk dilindungi dan dipulihkan.”
“Kehadiran pemerintah di tengah korban adalah bukti bahwa negara tidak boleh jauh dari rakyatnya.”
“Kak Seto dan LPAI juga membawa pesan bahwa suara anak harus tetap terdengar, bahkan ketika bencana membuat dunia mereka terguncang.”
“Bencana boleh meruntuhkan bangunan, tetapi jangan sampai meruntuhkan masa depan anak-anak.”
“Perlindungan perempuan dan anak adalah wajah kemanusiaan yang sesungguhnya.”
“Bantuan dapat meringankan beban, tetapi pendampingan mampu menumbuhkan kembali keberanian.”
“Di balik setiap korban terdapat keluarga, harapan dan masa depan yang harus diselamatkan.”
“Kemanusiaan tidak mengenal batas agama, organisasi maupun perbedaan; semua bersatu ketika rakyat membutuhkan.”
“Dari Flores kita belajar: ketika negara hadir dengan hati, luka bencana perlahan dapat berubah menjadi harapan.”
(Nurlince Hutabarat)




